Diet merupakan faktor lingkungan yang dapat dimodifikasi dan berperan penting dalam patogenesis, progresi, serta pengelolaan penyakit radang usus (inflammatory bowel disease/IBD), yang mencakup penyakit Crohn dan kolitis ulseratif. Selain faktor genetik dan disregulasi imun, bukti ilmiah yang semakin kuat menunjukkan bahwa komponen dan pola diet secara signifikan memengaruhi mikrobioma usus, integritas barier mukosa, serta aktivasi respons imun intestinal. Pola makan bergaya Barat, yang ditandai oleh konsumsi tinggi makanan ultra-proses, lemak jenuh, gula, serta daging merah dan olahan, secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko onset IBD, eksaserbasi gejala, dan perburukan aktivitas penyakit. Makanan ultra-proses dan bahan tambahan pangan seperti emulsifier, pemanis buatan, serta pengawet berkontribusi terhadap disbiosis mikrobiota, peningkatan permeabilitas usus, dan aktivasi jalur inflamasi proinflamasi, termasuk NF-κB dan sitokin seperti TNF-α dan IL-6. Diet tinggi lemak, khususnya lemak jenuh dan trans, memperburuk inflamasi usus melalui stres oksidatif, gangguan tight junction epitel, dan ekspansi bakteri proinflamasi seperti Bilophila wadsworthia. Konsumsi daging merah dan olahan juga berperan dalam inflamasi melalui kandungan heme iron dan pembentukan senyawa nitroso yang merusak mukosa serta mengubah komposisi mikrobiota. Sebaliknya, makanan kaya serat, produk fermentasi, dan beberapa produk susu tertentu menunjukkan potensi protektif dengan meningkatkan keragaman mikrobiota, produksi asam lemak rantai pendek—terutama butirat—serta memperkuat integritas mukosa intestinal. Namun, respons diet pada pasien IBD sangat heterogen dan dipengaruhi oleh faktor individual seperti intoleransi laktosa, sensitivitas gluten non-seliak, lokasi dan fenotipe penyakit, serta latar belakang budaya dan kebiasaan makan. Bukti yang tersedia tidak mendukung pembatasan diet secara menyeluruh, seperti eliminasi total produk susu atau gluten pada semua pasien, karena pendekatan tersebut berisiko menimbulkan defisiensi nutrisi dan tidak selalu berkorelasi dengan perbaikan inflamasi. Berbagai strategi nutrisi yang sedang berkembang, termasuk diet eliminasi, diet Mediterania, diet ketogenik, dan puasa intermiten, menunjukkan hasil yang bervariasi. Diet Mediterania dan beberapa diet eliminasi menunjukkan manfaat yang lebih konsisten terhadap penurunan inflamasi dan pemeliharaan remisi, sementara diet ketogenik dan puasa intermiten masih didukung terutama oleh data praklinis dan studi klinis terbatas. Secara keseluruhan, pendekatan nutrisi presisi yang mengintegrasikan profil mikrobioma, faktor genetik, status nutrisi, dan aktivitas penyakit dipandang sebagai arah masa depan dalam tata laksana IBD. Integrasi strategi diet berbasis bukti dan individual ke dalam perawatan klinis berpotensi meningkatkan luaran jangka panjang serta kualitas hidup pasien dengan IBD.
Penulis:
dr. Samudra Andi Yusuf
Dr. dr. Deasy Fetarayani, Sp.PD, K-AI, FINASIM
dr. Amie Vidyani, Sp.PD, K-GEH, FINASIM
dr. Henry Sutanto
Informasi lebih lengkap dari tinjauan pustaka ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://doi.org/10.1016/j.semerg.2025.102599
Food-driven inflammation in inflammatory bowel disease: Dietary instigators and emerging nutritional strategies
Samudra Andi Yusuf, Deasy Fetarayani, Amie Vidyani, and Henry Sutanto





