Penelitian Universitas Airlangga menemukan vaksin subunit berbasis protein Omp34 mampu melindungi hingga 84% hewan uji dari infeksi Aeromonas hydrophila, bakteri zoonotik yang mengancam perikanan dan kesehatan manusia. Penyakit ikan akibat bakteri Aeromonas hydrophila masih menjadi momok serius di sektor akuakultur. Bakteri ini tidak hanya menyebabkan kematian massal ikan budidaya seperti gurami, lele, dan nila, tetapi juga bersifat zoonotik, artinya dapat menular ke manusia. Selama ini, pengendalian penyakit sangat bergantung pada antibiotik, yang justru memicu masalah baru berupa resistensi antimikroba dan pencemaran lingkungan perairan.
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Universitas Airlangga dan mitra internasional melaporkan terobosan penting dalam jurnal Veterinary World. Mereka mengembangkan vaksin subunit berbasis protein Omp34, sebuah protein membran luar bakteri A. hydrophila, yang diuji pada model mamalia (mencit BALB/c) sebagai pendekatan One Health menghubungkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan .
Berbeda dengan vaksin bakteri utuh (formalin-killed vaccine) yang mengandung seluruh komponen sel bakteri, vaksin subunit hanya menggunakan bagian spesifik yang paling imunogenik. Dalam penelitian ini, protein Omp34 dengan berat sekitar 34 kDa dimurnikan langsung dari bakteri dan diformulasikan sebagai antigen vaksin.

Hasilnya sangat menjanjikan. Setelah tiga kali imunisasi dan uji tantang dengan dosis bakteri mematikan, 84,6% mencit yang menerima vaksin Omp34 berhasil bertahan hidup, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol yang hanya bertahan sekitar 23%. Bahkan, efektivitasnya melampaui vaksin bakteri utuh yang selama ini menjadi standar .
Yang menarik, peneliti tidak hanya menilai tingkat kelangsungan hidup, tetapi juga mekanisme kekebalan tubuh. Mereka menemukan bahwa aktivitas nitroblue tetrazolium (NBT), penanda kemampuan sel imun menghasilkan radikal oksigen untuk membunuh bakteri, menjadi indikator paling kuat dalam memprediksi perlindungan. Dengan kata lain, semakin tinggi respons NBT sebelum infeksi, semakin besar peluang hewan untuk bertahan hidup.
Temuan ini penting karena NBT relatif mudah dan murah diukur, sehingga berpotensi digunakan sebagai penanda praktis dalam pengembangan dan uji vaksin ikan di lapangan. Selain itu, vaksin Omp34 juga meningkatkan antibodi IgG2a, aktivitas lisozim, dan kemampuan fagositosis, menunjukkan respons imun yang kuat dan terkoordinasi.
Dari sisi keamanan, vaksin ini ditoleransi dengan baik. Tidak ditemukan efek samping berat, berat badan hewan stabil, dan reaksi lokal minimal. Hal ini memperkuat peluang vaksin Omp34 untuk dikembangkan lebih lanjut ke platform akuakultur, termasuk formulasi yang sesuai untuk ikan.
Secara lebih luas, penelitian ini memberikan harapan nyata untuk mengurangi ketergantungan antibiotik di perikanan, sejalan dengan rekomendasi WHO melalui program AWaRe. Jika berhasil diterapkan di lapangan, vaksin berbasis Omp34 dapat menjadi langkah strategis menuju akuakultur yang lebih berkelanjutan, aman bagi lingkungan, dan melindungi kesehatan manusia.
Rozi et al, 2025
rozi@fpk.unair.ac.id
Veterinary World, 18(12): 4025-4045





