UNAIR NEWS – Antusiasme mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) penuhi ruang Candradimuka, Gedung NANO Kampus MERR-C UNAIR pada Jumat (13/2/2026). Mereka hadir dalam acara Creative Workshop bertajuk “From Idea to Impact” yang sekaligus jadi awal peluncuran program Public Relations Internship perdana di Pusat Hubungan Masyarakat dan Protokol (PHMP) UNAIR.
Kegiatan ini turut menghadirkan dua pemateri jurnalis berpengalaman. Masing-masing adalah Koresponden Tempo, Hana Septiana dan Pemenang Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2023, Guslan Gumilang. Ketua PHMP, Pulung Siswantara SKM MKes mengungkapkan bahwa PHMP berkomitmen untuk jadi wadah mahasiswa agar mendapatkan pengalaman praktis.
“Ini adalah tahun pesertanya paling banyak, hari ini saya mewakili PHMP ingin mengenalkan sebuah program baru di PHMP. Kami mencoba memberi kesempatan bagi mahasiswa yang punya kemampuan menulis, fotografi, videografi, desain editing, MC, dan penerjemah untuk bergabung bersama kami selama enam bulan ke depan,” jelasnya.
Pemahaman Jurnalistik
Pada sesi materi pertama, Hana menekankan pentingnya pemahaman terkait jurnalistik yang berdasarkan pada kode etik dan verifikasi. “Sebagai seorang jurnalis, kita harus paham cara mengungkap fakta dari suatu peristiwa, seperti jurnalisme data dan in-depth journalism untuk berita dengan lebih dari dua atau tiga narasumber,” sebutnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti tantangan jurnalisme digital, seperti pembajakan konten dan dominasi podcast non-media. Menurutnya, UNAIR News sebagai salah salah satu tim branding kampus telah beradaptasi dengan baik. “Tantangannya kini, berita kita dicomot tanpa kredit. Media massa harus mampu mengejar ketertinggalan, dan UNAIR News adalah salah satu media kampus yang larinya kencang,” ujar koresponden Tempo tersebut.
Perspektif Fotografi Jurnalistik
Tak kalah menarik, sesi berikutnya diisi oleh Guslan Gumilang yang membagikan perspektif unik tentang fotografi jurnalistik. Ia mengajak peserta untuk melihat sebuah visual dari sudut pandang berbeda.
“Saya mau kasih tips visual menarik. Fotografer tugasnya membuat yang berbeda untuk memunculkan yang menarik. Ada nilai berita: apa, kapan, dan bagaimana. Kalau jurnalistik, harus lihat bagaimana yang menarik. Sebelum menekan shutter, fotografer harus punya konsep, foto harus dipikirkan outputnya ke mana,” terangnya.

Guslan juga mengingatkan bahwa nilai foto tidak selalu berasal dari peristiwa atau momen besar saja. “Ada human interest yang bikin foto punya rasa dan getaran. Nilai berita foto yang tinggi tidak mesti muncul dari peristiwa besar. Peristiwa boleh berulang, tapi angle dan momennya harus beda. Menangkap momen bergantung pada kemampuan fotografer memprediksi dan mengantisipasi rangkaian peristiwa, baru setelah itu bergantung pada nasib,” pesannya.
Penulis: Mohammad Adif Albarado
Editor: Ragil Kukuh Imanto





