Universitas Airlangga Official Website

RSUA Bagikan Panduan Puasa Aman dan Sehat bagi Lansia

dr Safitri Indah M SpPD saat menjelaskan panduan puasa aman bagi lansia pada Seminar Awam besutan Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam RSUA
dr Safitri Indah M SpPD saat menjelaskan panduan puasa aman bagi lansia pada Seminar Awam besutan Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam RSUA (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) menggelar seminar bertajuk Ramadan Berdampak: Panduan Puasa Aman dan Sehat bagi Lansia serta Penyintas Diabetes, Gangguan Ginjal, dan Gangguan Lambung. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (14/2/2026) di Hall Wikrama Lt. 7, Grha Trimed RSUA tersebut menyasar masyarakat umum. Khususnya lansia dan penyintas penyakit kronis, sebagai bekal menyambut Ramadan. 

Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUA, dr Pradana Zaky Romadhon SpPD K-HOM FINASIM menegaskan bahwa seminar ini merupakan bagian dari komitmen institusi untuk memberi dampak langsung kepada masyarakat. Ia menyebut, keberadaan para ahli di rumah sakit harus diikuti dengan edukasi yang aplikatif. Terlebih menjelang Ramadan, kesiapan kesehatan menjadi aspek yang tidak bisa terabaikan.

“Kami punya banyak ahli di sini. Tapi kalau ilmunya hanya berhenti di rumah sakit, dampaknya apa bagi masyarakat? Forum seperti ini yang membuat ilmunya terasa. Bagaimana kita ingin Ramadan yang kuat kalau aspek kesehatannya tidak dipersiapkan?” ujarnya.

Dokter Safitri Indah M SpPD secara khusus membahas panduan puasa aman dan sehat bagi lansia. Ia terlebih dulu menjelaskan batasan usia menurut World Health Organization (WHO) agar peserta tidak salah memahami istilah lansia. Ia menyebut usia pertengahan berada pada rentang 45-59 tahun, lansia 60-74 tahun, usia tua 75-90 tahun, dan sangat tua di atas 90 tahun.

Menurutnya, pemahaman kategori usia penting karena kebutuhan dan risiko kesehatan tiap kelompok berbeda. Lansia, terutama di atas 60 tahun, lebih rentan mengalami dehidrasi, penurunan massa otot, hingga gangguan metabolik saat berpuasa. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa lansia tetap dapat berpuasa dengan pertimbangan klinis yang tepat.

“Apakah lansia boleh berpuasa? Boleh. Tapi kita harus lihat, manfaatnya lebih besar atau tidak dibandingkan mudaratnya. Karena puasa itu banyak manfaatnya, bisa membantu menghancurkan sel-sel yang rusak, meningkatkan pembakaran lemak, memperbaiki mood, dan menjaga metabolisme tubuh tetap baik,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr Safitri menegaskan bahwa puasa pada lansia memerlukan persiapan optimal. Ia menyebut lima komponen nutrisi yang harus terpenuhi selama Ramadan, yakni serat, vitamin dan kalsium, protein, karbohidrat, serta zat besi. Sumber nutrisi tersebut dapat diperoleh dari sayur, buah, kacang-kacangan, susu, ikan, telur, daging, hingga umbi-umbian, dengan penyesuaian kondisi masing-masing individu.

“Supaya gampang, satu kepalan tangan untuk karbohidrat, satu telapak tangan untuk protein, satu tangkup tangan untuk sayur dan buah, lalu lemak cukup satu ruas jari. Waktu sahur, pilih karbohidrat yang indeks glikemiknya rendah, lalu perbanyak serat dan protein. Saat berbuka mulai dulu dengan air putih, boleh kurma atau buah, setelah itu makan secukupnya,” tuturnya.

Pada akhir, selain nutrisi dan cairan, dr Safitri juga mendorong lansia tetap aktif untuk mencegah penurunan massa otot. Ia menyarankan olahraga ringan sebelum berbuka atau setelah makan malam serta menghindari aktivitas berat di siang hari karena risiko dehidrasi. “Yang penting disesuaikan dengan kondisi masing-masing supaya puasa tetap lancar dan tidak lemas,” pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmawati