UNAIR NEWS – Selama sembilan hari di Shizuoka Prefecture, Jepang, mahasiswa BBK 7 International Universitas Airlangga (UNAIR) menggali praktik kesiapsiagaan bencana sekaligus terlibat dalam berbagai aksi keberlanjutan. Pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran lintas budaya yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga aplikatif di lapangan.
Mahasiswa melaksanakan dua kegiatan volunteer activity yang berfokus pada ketahanan rumah tangga dan komunitas. Kelompok 1A meneliti kesiapan pemilik rumah dalam menghadapi bencana alam, mulai dari kesiapan alat hingga kesiapan mental. Edukasi kebencanaan di Jepang diketahui telah tertanam sejak usia dini. Bahkan sistem penguncian perabot rumah dirancang untuk mengurangi risiko saat gempa.
Talitha Azzahra Komara menjelaskan bahwa kesiapan tersebut tidak selalu berarti bebas dari rasa takut. Ia menilai pertukaran wawasan ini dapat menjadi pembelajaran berharga bagi Indonesia dalam memperkuat kesiapsiagaan berbasis keluarga. “Walaupun beberapa rumah sudah memiliki perlindungan lengkap, rasa cemas tetap ada ketika membayangkan bencana besar,” ujarnya.

Mahasiswa juga menemukan metode edukasi anak melalui picture story show yang mengenalkan bencana dengan ilustrasi yang tidak menyeramkan. Pendekatan ini dinilai efektif membangun kesadaran tanpa menimbulkan trauma sejak dini. Model tersebut membuka peluang adaptasi dalam pendidikan kebencanaan di Indonesia.
Community Ties
Sementara itu, Kelompok 1B mengangkat tema community ties dalam proses pemulihan pasca bencana. Yasmin Nur A mengungkapkan bahwa timnya ingin melihat bagaimana komunitas berfungsi di tengah citra masyarakat Jepang yang cenderung individualis. Hasil observasi menunjukkan bahwa ruang komunitas tetap memiliki peran penting ketika bencana terjadi.
“Walaupun hubungan antar tetangga tidak terlalu dekat, mereka tetap membutuhkan dukungan satu sama lain saat situasi darurat,” jelas Yasmin. Ia menambahkan bahwa community hall yang disediakan pemerintah dapat dikelola generasi lebih tua agar menjadi titik temu kolaborasi dengan warga muda untuk memperkuat solidaritas sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa ketahanan bencana tidak hanya dibangun melalui sistem, tetapi juga melalui relasi sosial.
Pengumpulan Daun Pinus
Selain fokus pada isu kebencanaan, mahasiswa turut berkontribusi dalam pelestarian lingkungan melalui kegiatan pengumpulan jarum pinus di Miho no Matsubara. Jarum pinus yang gugur dimanfaatkan untuk menjaga kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan gulma demi keberlanjutan ekosistem hutan. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata aksi lingkungan yang sederhana namun berdampak.
Mahasiswa juga terlibat dalam kegiatan translation support yang dilakukan bersama para elderly tour guides yang sedang bertugas. Dalam kegiatan ini, mahasiswa diajak berkeliling dan diperkenalkan pada budaya Jepang melalui tiga lokasi utama, yaitu gedung pemerintahan, Sunpu Castle, serta sesi matcha experience.
Peran mahasiswa adalah membantu para pemandu wisata tersebut berlatih dan mengembangkan keterampilan mereka dalam memandu tur, khususnya dalam aspek komunikasi lintas bahasa. Pada akhir sesi, mahasiswa diminta memberikan ulasan dan masukan sebagai bentuk evaluasi agar para pemandu dapat terus meningkatkan kualitas penyampaian mereka.
Kegiatan ini tidak hanya memperkuat kemampuan komunikasi antarbudaya, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya yang mendorong pertukaran pemahaman antara Indonesia dan Jepang.
Seluruh rangkaian kegiatan ini mendukung pencapaian SDGs 17 (Partnerships for the Goals), SDGs 4 (Quality Education), SDGs 15 (Life on Land), dan SDGs 13 (Climate Action). Lebih dari sekadar program internasional, pengalaman di Shizuoka menjadi refleksi nyata tentang bagaimana generasi muda dapat belajar, berkontribusi, dan membangun ketangguhan bersama lintas negara.
Penulis: Rizma Elyza
Editor: Yulia Rohmawati





