Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) tingkatkan kesadaran dan deteksi dini Tuberkulosis (TBC) kepada masyarakat di Kecamatan Mulyorejo, Surabaya pada Rabu (26/11/2025). Program ini merupakan bentuk kolaborasi antara FK UNAIR dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya yang melibatkan beberapa mahasiswa kedokteran dan dosen dalam penemuan kasus baru Tuberkulosis di Surabaya.
Kegiatan ini ditekankan pada skrining aktif kasus Tuberkulosis di beberapa puskesmas dengan menargetkan 100 orang per kecamatan, yang terdiri dari anak- anak, dewasa, hingga lansia. Peserta skrining harus mengikuti beberapa tahapan, mulai dari sosialisasi mengenai pengetahuan dasar Tuberkulosis, upaya pencegahan serta penanganan apabila menemukan gejala penyakit tersebut, dan penjelasan akan pentingnya skrining bagi kelompok yang berisiko.
Kegiatan dilanjutkan dengan anamnesis atau wawancara sistematis mengenai faktor risiko Tuberkulosis, pengukuran berat badan dan tinggi badan, serta pemeriksaan radiografi x-ray paru. Hasil skrining akan dibaca dan dinilai oleh para dokter dari FK UNAIR untuk dilakukan pemilahan masyarakat yang terduga terinfeksi dan masyarakat sehat. Masyarakat yang terduga terinfeksi akan diberikan TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis) dan akan dihubungi lebih lanjut untuk pemeriksaan dahak.
Skrining aktif sangat diperlukan mengingat Tuberkulosis merupakan penyakit menular dan Indonesia menduduki peringkat kedua dengan kasus Tuberkulosis terbanyak di dunia. Kegiatan ini mendukung program Dinas Kesehatan Kota Surabaya dalam menemukan kasus aktif Tuberkulosis sebanyak-banyaknya agar dapat segera mendapat penanganan demi mencegah penularan ke orang sekitar, terutama ke kelompok rentan, seperti lansia dan anak-anak serta mendukung program eliminasi TBC di 2030.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 (Good Health and Well Being) dan poin 17 (Partnerships for the Goals). Harapannya, kegiatan ini dapat menciptakan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dan melakukan deteksi dini Tuberkulosis secara aktif dan berkelanjutan, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor demi keberhasilan program kesehatan yang menyeluruh.
Penulis: Caroline Abelia, Ayesha Early Santoso, Erinda Fairuz Ramadhani





