Plankton memainkan peran penting dalam ekosistem laut, berfungsi sebagai sumber makanan utama bagi berbagai organisme laut dan ikan pelagis. Fluktuasi kelimpahan plankton berpotensi sangat memengaruhi seluruh jaring makanan laut, berdampak pada populasi ikan yang memberikan signifikansi ekonomi bagi masyarakat pesisir. Plankton memainkan peran penting dalam siklus nutrisi. Siklus karbon, nitrogen, dan fosfor sangat dipengaruhi oleh dinamika plankton, yang memungkinkan pergerakan nutrisi ini dari permukaan ke laut dalam. Perubahan dalam komunitas planktonik dapat mengindikasikan perubahan kualitas air dan kesehatan ekosistem secara keseluruhan. Misalnya, keberadaan mikroplastik telah terbukti berdampak pada ekosistem planktonik, berpotensi menyebabkan dampak berantai di seluruh rantai makanan. Pantai Utara Pulau Jawa merupakan ekosistem laut dinamis yang dipengaruhi oleh berbagai tekanan akibat aktivitas manusia, termasuk polusi dan penangkapan ikan berlebihan.
Polusi sampah plastik di perairan pesisir merupakan isu lingkungan yang penting. Penguraian puing-puing plastik yang lebih besar menjadi mikroplastik, yang didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, merupakan hasil dari kombinasi proses fisik, kimia, dan biologis. Mikroplastik berasal dari berbagai sumber, seperti pembuangan air limbah perkotaan, limbah industry, praktik pertanian, dan degradasi material plastik yang lebih besar. Sungai memainkan peran penting dalam mengangkut mikroplastik dari sumber darat ke lingkungan laut, menjadikannya jalur penting bagi polutan plastik. Distribusi mikroplastik di air permukaan dapat berdampak signifikan pada kehidupan laut, termasuk ikan pelagis. Konsumsi mikroplastik dapat menyebabkan beberapa komplikasi kesehatan pada ikan, seperti kerusakan fisik, peradangan, dan stres oksidatif. Dampak tersebut dapat menghambat pertumbuhan, reproduksi, dan kebugaran secara keseluruhan, berpotensi memengaruhi populasi ikan dan keberlanjutannya.
Ikan pelagis bergantung pada mekanisme penyaringan makanan untuk mendapatkan dan mengonsumsi partikel makanan dari lingkungan perairan. Proses ini menggunakan prinsip penyaringan aliran silang dan aliran buntu. Dalam penyaringan aliran silang, air bergerak sejajar dengan insang, memfasilitasi pengangkutan partikel di sepanjang permukaan alih-alih memaksanya langsung melalui filter. Mekanisme ini memfasilitasi retensi partikel di permukaan insang, berfungsi mirip dengan saringan, setelah itu partikel diangkut menuju kerongkongan. Ikan pelagis seperti makarel India (Rastrelliger kanagurta) sebagian besar mengonsumsi zooplankton (43,56%), fitoplankton (39,93%), dan alga (2,89%). Komposisi makanan ini menggambarkan efektivitas mekanisme penyaringan makanannya dalam menangkap berbagai ukuran partikel.
Paparan mikroplastik telah terbukti memengaruhi perilaku makan berbagai organisme laut. Larva landak laut yang terpapar mikroplastik menunjukkan gangguan seleksi partikel dan waktu pengisian perut yang lebih lama, yang mungkin juga berdampak pada ikan kembung. Konsumsi mikroplastik dapat mengganggu perilaku makan ikan yang khas. Mikroplastik dapat mengurangi nilai gizi bahan yang dikonsumsi, sehingga mengakibatkan penurunan efisiensi makan dan kemungkinan kekurangan gizi. Kehadiran mikroplastik dapat mengganggu transfer energi dan nutrisi dalam jaring makanan laut, berpotensi berdampak pada tingkat trofik yang lebih tinggi. Zat ini dapat menyerap dan memekatkan bahan kimia beracun, yang kemudian dapat ditransfer ke predator melalui interaksi trofik, sehingga menimbulkan risiko tambahan bagi ekosistem laut.
Studi ini berupaya mengidentifikasi karakteristik mikroplastik dan komposisi plankton di habitat ikan pelagis di sepanjang Pantai Utara Jawa Tengah. Karakteristik mikroplastik yang dianalisis meliputi jenis, warna, ukuran, jenis polimer, dan komposisi kimia. Sampel plankton diidentifikasi berdasarkan spesies dan ukuran. Kami secara simultan mengkarakterisasi kelimpahan dan sifat mikroplastik bersamaan dengan komposisi dan struktur ukuran plankton di sepanjang Pantai Utara Jawa Tengah menggunakan pendekatan berbasis ukuran yang sebanding. Mengidentifikasi komposisi spesies dan ukuran organisme planktonik memungkinkan evaluasi interaksi ikan pelagis dengan lingkungannya dan probabilitas mereka mengonsumsi mikroplastik bersamaan dengan mangsa planktonik alami mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan MP secara keseluruhan (83 partikel/L) di semua lokasi di perairan pantai ini secara signifikan lebih tinggi daripada plankton (57 individu/L). Konsentrasi MP berkisar antara 10 hingga 42 partikel/L, dengan Jepara menunjukkan tingkat tertinggi pada 42 partikel/L. Distribusi plankton di semua lokasi menunjukkan sedikit variasi, berkisar antara 13 hingga 15 individu/L di setiap lokasi. Ukuran dominan baik MP maupun plankton adalah ≤ 1 mm. MP berukuran ≤ 1 mm merupakan 98% dari total MP, sedangkan plankton dengan ukuran yang sama mewakili 94,7% dari total plankton. Copepoda menunjukkan keanekaragaman paling besar dalam kelas ukuran, menunjukkan kelimpahan pada kategori yang lebih besar (>1-2 mm dan >4-5 mm), sedangkan taksa lain terutama menunjukkan kelimpahan pada kelas ukuran ≤ 1 mm. Studi ini mengidentifikasi berbagai macam mikroplastik, seperti serat, fragmen, film, dan pelet. Serat (38,8%) adalah bentuk yang paling umum, diikuti oleh fragmen (31,2%) di semua lokasi. Warna yang paling umum adalah hitam, dengan 44,8% dari total, sedangkan transparan berada di urutan kedua dengan 29,6%. Tujuh jenis polimer, termasuk polietilen (PE), polipropilen (PP), polietilen densitas rendah (LDPE), polistiren (PS), polietilen tereftalat (PET), poliuretan (PU), dan poliakrilonitril (PAN), dianalisis menggunakan pencitraan FTIR, dengan PET terdeteksi melimpah di semua lokasi pengambilan sampel. Penelitian ini menyajikan data dasar mengenai distribusi simultan mikroplastik dan plankton di perairan pantai utara Jawa Tengah. Studi ini meningkatkan pemahaman tentang dinamika mikroplastik di lingkungan pesisir melalui perbandingan kelimpahan kuantitatif, analisis kelas ukuran, dan identifikasi polimer berbasis FTIR.
Artikel di atas disarikan dari:
Suryandari, A., Soegianto, A., Kuncoro, E.P., Payus, C.M., Hartati, R., 2026. Abundance and characteristics of plankton and microplastics along the northern coastline of Central Java, Indonesia. Estuarine. Coastal and Shelf Science, 329, 109688. https://doi.org/10.1016/j.ecss.2025.109688





