Universitas Airlangga Official Website

Penatalaksanaan Bedah pada Persalinan Sesar Kompleks

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Persalinan melalui operasi sesar merupakan prosedur bedah yang paling sering dilakukan di seluruh dunia. Sebagian besar dokter obstetri dan ginekologi telah terbiasa melakukan operasi sesar. Namun, konsekuensi dari riwayat operasi sesar berulang—seperti remodeling jaringan parut uterus pascaoperasi serta terjadinya dehisensi atau ruptur uterus—dapat meningkatkan kompleksitas tindakan operasi sesar secara bermakna. Adhesi, dehisensi uterus, ruptur uterus, perluasan sayatan histerotomi, mioma uteri, dan perdarahan merupakan penyebab umum meningkatnya tingkat kesulitan pembedahan, yang sangat bergantung pada derajat perubahan anatomi abnormal serta kondisi klinis akut yang dihadapi.

Adhesi menyebabkan perubahan tekstur, elastisitas, dan kekuatan tarik jaringan, serta mendistorsi bidang dan hubungan anatomi normal. Kondisi ini menuntut diseksi yang cermat untuk mencegah cedera organ sekitar, seperti kandung kemih atau usus, serta untuk memastikan hemostasis yang adekuat. Mioma uteri tidak hanya mengubah hubungan anatomi, tetapi juga dapat mengaburkan lapangan operasi, menghambat penutupan miometrium, atau bahkan memerlukan pengangkatan agar persalinan janin dapat dilakukan dengan aman. Sementara itu, dehisensi dan ruptur uterus dapat mendistorsi refleksi kandung kemih, menurunkan segmen uterus bawah, serta menyebabkan kompromi maternal dan janin, perdarahan, dan peningkatan risiko perluasan sayatan histerotomi.

Perluasan sayatan histerotomi paling sering terjadi secara lateral, melibatkan cabang arteri uterina, atau ke arah distal menuju serviks dan vagina. Pada kasus yang lebih jarang, distorsi anatomi yang berat dapat terjadi, seperti sakulasi uterus akibat uterus retroversi terinkarserasi, di mana struktur yang tampak sebagai fundus uterus sebenarnya merupakan segmen uterus bawah yang teregang bersama kandung kemih. Selain itu, operasi sesar yang dilakukan dalam situasi resusitasi kardiopulmoner merupakan salah satu skenario bedah yang paling menantang secara teknis dan psikologis, dengan estimasi kejadian sekitar 1 dari 9000 persalinan berdasarkan data United States National Inpatient Sample tahun 2017. Operasi sesar kompleks memerlukan keahlian teknis dan keterampilan bedah tingkat lanjut. Pengenalan anatomi normal dan perubahan patologis, pendidikan bedah berkelanjutan, serta pendekatan strategis terhadap pembedahan obstetri kompleks merupakan kunci keberhasilan. Tinjauan ini bertujuan untuk mengilustrasikan pendekatan bedah pada beberapa skenario kompleks terpilih melalui deskripsi, gambar, dan video guna membantu dokter di lini depan yang akan menghadapi kasus-kasus obstetri dengan tingkat kesulitan yang semakin meningkat.

Penulis: Rozi Aditya Aryananda, dr., SpOG

Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://www.ajog.org/article/S0002-9378(25)00225-X/fulltext