Universitas Airlangga Official Website

Kehilangan Penglihatan Progresif Sepihak pada Meningoensefalitis Tuberkulosis

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Tuberkulosis (TB) masih merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit menular di dunia. WHO mencatat lebih dari 10 juta orang terinfeksi setiap tahun, dengan angka kematian mencapai 1,3 juta jiwa. Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan jumlah kasus TB terbanyak secara global. Meskipun selama ini TB identik dengan penyakit paru, Mycobacterium tuberculosis juga dapat menyerang organ lain, termasuk mata, dan berpotensi menimbulkan kebutaan permanen. TB intraokular dilaporkan terjadi pada 1,4–6,8% pasien TB paru, melalui penyebaran hematogen yang membawa kuman ke jaringan uvea atau saraf optik. Manifestasi klinis dapat berupa neuritis optik maupun uveitis, namun gejala awal sering kali tidak khas sehingga sulit ditegakkan hanya melalui pemeriksaan klinis, dan pada akhirnya diagnosis menjadi terlambat.

Seorang pasien usia 17 tahun yang mengalami penurunan penglihatan progresif pada mata kanan, disertai demam dan sakit kepala. Riwayat keluarga menunjukkan bahwa ibu pasien sedang menjalani terapi TB. Pemeriksaan oftalmologis menunjukkan pucat pada saraf optik serta adanya multiple choroidal white lesions pada kedua mata. Pemeriksaan lanjutan menegakkan diagnosis meningoensefalitis tuberkulosis dengan komplikasi mata. Pasien mendapatkan terapi antibiotik anti-TB dan kortikosteroid, namun perbaikan fungsi penglihatan menetap.

TB okular berbahaya karena menyerang struktur vital mata. Kerusakan dapat terjadi akibat penyebaran langsung kuman, reaksi imun berlebihan, peningkatan tekanan intrakranial akibat TB meningitis, maupun efek samping obat seperti etambutol yang diketahui berpotensi merusak saraf optik. Kendala terbesar adalah tidak adanya pemeriksaan diagnostik tunggal yang spesifik, ditambah hasil laboratorium yang kerap memberikan negatif palsu, sehingga diagnosis umumnya bersifat presumptif. Pengobatan TB okular pada dasarnya serupa dengan TB paru, namun keberhasilan terapi tidak selalu berbanding lurus dengan pemulihan fungsi penglihatan. Oleh karena itu, deteksi dini merupakan langkah krusial, terutama di daerah endemis seperti Indonesia. Setiap kasus penurunan penglihatan progresif perlu dipertimbangkan kemungkinan keterlibatan TB. Upaya ini menjadi penting sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman kebutaan akibat tuberkulosis.

Penulis: Ronik Harsono Kamal1, Muhammad Rizqy Abdullah2, Clarisa Finanda1, Muhammad Firmansjah3, Yulia Primitasari4

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://www.klinikaoczna.pl/Journal/-124/pdf-56276-10?filename=KO-00526_EN_p.pdf

Judul Jurnal:

Unilateral progressive vision loss in tuberculous meningoencephalitis

DOI: https://doi.org/10.5114/ko.2025.152092