Universitas Airlangga Official Website

Gel Minyak Kayu Putih Lokal Berpotensi Mempercepat Penyembuhan Luka Mulut pada Lansia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Luka pada mulut, terutama akibat penggunaan gigi tiruan atau trauma mekanik ringan, merupakan masalah yang sering dialami oleh lansia. Luka ini dapat menimbulkan nyeri, mengganggu makan dan berbicara, serta menurunkan kualitas hidup. Sayangnya, pada usia lanjut, proses penyembuhan luka sering berlangsung lebih lama karena penipisan mukosa, penurunan imunitas, dan peradangan yang berkepanjangan.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa peradangan berlebih merupakan kunci utama terhambatnya penyembuhan luka mulut. Zat-zat peradangan seperti IL-1β, IL-6, dan TNF-α dapat memperpanjang fase inflamasi sehingga jaringan sulit beregenerasi. Karena itu, terapi yang mampu menekan peradangan secara efektif namun tetap aman sangat dibutuhkan, terutama bagi lansia.

Indonesia kaya akan tanaman obat, salah satunya Melaleuca leucadendron, yang dikenal luas sebagai kayu putih. Selama ini, minyak kayu putih digunakan secara tradisional sebagai penghangat dan pereda nyeri. Namun, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa daun tanaman ini mengandung senyawa aktif yang memiliki efek antiinflamasi dan antioksidan.

Senyawa-senyawa alami dalam Melaleuca leucadendron diduga mampu menghambat jalur molekuler pemicu peradangan, termasuk jalur NF-κB, yang berperan penting dalam produksi sitokin proinflamasi. Temuan ini mendorong para peneliti untuk menguji potensi kayu putih secara lebih ilmiah, khususnya dalam konteks penyembuhan luka mulut.

Dalam penelitian eksperimental ini, kami mengembangkan gel berbahan ekstrak Melaleuca leucadendron 0,7% dan mengujinya pada model luka mulut pada tikus. Luka dibuat secara terstandar pada sisi lidah, kemudian gel dioleskan dua kali sehari selama tujuh hari. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan gel kayu putih ini secara signifikan menurunkan kadar IL-1β dan IL-6 dibandingkan kelompok tanpa perlakuan. Penurunan TNF-α juga terlihat, meskipun efeknya lebih bervariasi. Artinya, gel ini mampu menekan peradangan sejak fase awal, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi penyembuhan luka.

Selain efek biologis, gel ini juga memiliki sifat fisik yang baik: cukup kental, mudah diratakan, stabil, dan cocok diaplikasikan pada mukosa mulut. Karakteristik ini penting agar obat dapat bertahan lebih lama di area luka dan bekerja secara optimal.

Bagi para lansia, penggunaan obat antiinflamasi konvensional seperti kortikosteroid sering kali dibatasi karena risiko efek samping, termasuk penipisan mukosa dan infeksi sekunder. Gel berbasis tanaman seperti Melaleuca leucadendron menawarkan alternatif yang lebih aman, alami, dan non-invasif.

Selain itu, bahan bakunya mudah diperoleh di Indonesia, sehingga berpotensi dikembangkan menjadi produk kesehatan lokal bernilai tinggi. Dengan formulasi yang tepat, gel kayu putih dapat menjadi terapi pendamping atau alternatif untuk perawatan luka mulut, khususnya pada kelompok usia lanjut.

Meski hasil penelitian ini sangat menjanjikan, uji klinis pada manusia masih diperlukan sebelum gel ini digunakan secara luas di masyarakat. Namun demikian, temuan ini memperkuat bukti bahwa kearifan lokal berbasis tanaman obat Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi solusi medis modern. Dengan pendekatan ilmiah yang tepat, tanaman tradisional seperti kayu putih tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga kontributor nyata bagi kesehatan masyarakat di masa depan.

Penulis: Khanisyah Erza Gumilar

khanisyah@fk.unair.ac.id

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1991790225004118