Universitas Airlangga Official Website

Budaya Keselamatan di Institusi Akademik Malaysia dan Indonesia: Mengidentifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Melalui Tinjauan Sistematis

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Budaya keselamatan secara luas diakui sebagai penentu penting kinerja keselamatan organisasi di sektor industri, yang memengaruhi perilaku, sikap, dan praktik yang secara kolektif mengurangi risiko dan meningkatkan hasil keselamatan. Namun, perannya dalam lembaga akademik di Malaysia dan Indonesia, termasuk pendidikan dasar, pendidikan tinggi, dan pusat pelatihan kejuruan, masih kurang diteliti. Memahami budaya keselamatan dalam konteks ini sangat penting karena lembaga akademik tidak hanya berfungsi sebagai tempat kerja bagi staf tetapi juga sebagai lingkungan belajar bagi siswa, di mana praktik keselamatan dapat membentuk perkembangan perilaku dan sikap jangka panjang. Untuk mengatasi kesenjangan ini, studi ini menggunakan Tinjauan Pustaka Sistematis yang dipandu oleh metodologi PRISMA untuk secara sistematis mengidentifikasi dan menganalisis penelitian yang dilakukan antara tahun 2017 dan 2021, yang berfokus pada faktor-faktor yang memengaruhi budaya keselamatan di lembaga akademik Malaysia dan Indonesia. Analisis tematik mengungkapkan lanskap yang bernuansa dan multidimensi di Malaysia, di mana delapan tema utama dan dua puluh subtema muncul, dengan kompetensi, komitmen, dan sikap keselamatan diidentifikasi sebagai faktor yang paling berpengaruh; Dimensi perilaku mendominasi temuan, mencakup 85%, diikuti oleh dimensi psikologis dan situasional masing-masing sebesar 10% dan 5%, menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap protokol keselamatan, keterlibatan proaktif, dan internalisasi sikap keselamatan merupakan hal sentral dalam mengembangkan budaya keselamatan yang kuat. Sebaliknya, konteks Indonesia menunjukkan fokus yang lebih terkonsentrasi pada faktor situasional dan perilaku, menunjukkan bahwa kebijakan institusional, kondisi lingkungan, dan penegakan prosedural memberikan pengaruh yang lebih kuat di samping perilaku individu. Secara kolektif, temuan ini menyoroti perlunya para pemimpin institusional, administrator, dan pembuat kebijakan di kedua negara untuk mengakui budaya keselamatan sebagai prioritas strategis, menerapkan intervensi yang ditargetkan seperti program pelatihan terstruktur, kampanye kesadaran, dan integrasi prinsip-prinsip keselamatan ke dalam kerangka kerja tata kelola untuk mendorong praktik keselamatan yang proaktif dan berkelanjutan. Dengan menekankan tanggung jawab individu dan institusional, lembaga akademik di Malaysia dan Indonesia dapat meningkatkan perlindungan staf dan mahasiswa sekaligus mempromosikan budaya keselamatan yang meluas di luar lingkungan pembelajaran, memastikan bahwa perilaku dan sikap yang sadar akan keselamatan tertanam sebagai bagian dari norma organisasi dan masyarakat yang lebih luas.

Penulis: Tofan Agung Eka Prasetya, S.Kep., M.KKK., Ph.D.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/safety-culture-in-malaysian-and-indonesian-academic-institutions-/