Di Indonesia, salah satu masalah ketahanan pangan nasional adalah terkait dengan hama utama tanaman padi di setiap musim tanam, yang menyebabkan gagal panen karena serangan tikus. Pengendalian hama tikus merupakan masalah paling sulit yang dihadapi petani di setiap musim tanam (Van Den Berg dan Jiggins, 2007). Populasi tikus padi di sawah yang ditanami dengan indeks tanam tiga kali setahun cenderung meningkat setiap musim tanam. Tikus mulai berkembang biak di ekosistem padi irigasi ketika tanaman padi berada dalam tahap menghasilkan anak dan berlanjut sampai panen. Tikus padi melahirkan tiga kali dalam satu musim tanam, dengan rata-rata 10 anak per kelahiran. Hal ini karena peningkatan indeks tanam padi secara tidak langsung menciptakan kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi tikus, yaitu, ketersediaan sumber makanan yang melimpah, yang sangat mendukung proses reproduksi mereka. Tikus sawah dapat menyerang tanaman padi dari tahap bibit sampai panen (Sudarmaji dan Herawati, 2017; Hamdan et al., 2020). Serangan tikus dapat menyebabkan sampai 80% tanaman padi di satu petak mati dalam satu malam (1 hari). Tikus merusak tanaman padi dari akar, batang, dan daun sampai biji, sehingga mencegah pertumbuhannya (Sarra dan Peters, 2003; Xuan et al., 2021). Menurut Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, dikutip oleh Brotodjoyo et al. (2023), 58.443 hektar sawah terserang tikus dari Januari sampai Juni 2021, mengakibatkan gagal panen sekitar 1.842 hektar. Lima provinsi dengan serangan tikus tertinggi persentase infestasi terdapat di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Berbagai pendekatan untuk mengatasi infestasi tikus ada, termasuk metode mekanis, kimia, dan biologis. Dalam kejadian infestasi, pemerintah mendorong petani untuk mengadopsi teknik pengendalian hama yang lebih aman dan ramah lingkungan (Kabir dan Rainis, 2015; Halimatunsadiah dkk., 2016). Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis, misalnya, dengan mendorong penggunaan perangkap tikus di lahan pertanian. Pengendalian juga dapat dilakukan secara kimia menggunakan kompos dengan menyemprotnya dengan racun tikus, tetapi racun yang digunakan berbahaya bagi pengguna (Xuan dkk., 2021). Semua metode ini dianggap tidak efektif dalam mengendalikan populasi tikus; oleh karena itu, upaya pengendalian biologis telah dilakukan menggunakan S. singaporensis (Jäkel dkk., 1999; Ginting dan Jakel, 2005). Sarcocystis singaporensis adalah organisme uniseluler parasit yang termasuk dalam filum Apicomplexa, kelas Sporozoasida, subkelas Coccidiasina, ordo Eucoccidiorida, dan famili Sarcocystidae (Bezerra et al., 2023). Parasit ini telah dipelajari secara ekstensif selama lebih dari 25 tahun (Khoprasert et al., 2008) dan pertama kali ditemukan di Singapura (Zaman dan Coley, 1975; O’Donoghue et al., 1987; Jakel et al., 1997a, b). Parasit ini juga ditemukan di Sulawesi dan Jawa Indonesia (O’Donoghue et al., 1987; Ginting dan Jakel, 2005). Parasit S. singaporensis tidak menular atau berbahaya bagi berbagai spesies burung, reptil, dan mamalia, termasuk primata (Khoprasert et al., 2008). Oleh karena itu, tidak adanya data epidemiologi yang dapat menghubungkan spesies parasit ini dengan infeksi pada manusia tidak menimbulkan risiko infeksi, meskipun parasit ini memiliki prevalensi yang tinggi di alam (O’Donoghue et al., 1987; Jakel et al., 1996; Khoprasert et al., 2008; Aryan et al., 2025). Sarcocystis singaporensis adalah salah satu spesies protozoa pada ular yang paling banyak dipelajari karena endemiknya di Asia Tenggara dan kemampuannya menyebabkan kematian pada spesies hewan pengerat tertentu (Bezerra et al., 2023). Dalam siklus hidupnya, parasit ini membutuhkan dua inang: ular piton retikulata (Malayopython reticulatus) sebagai inang definitif dan hewan pengerat dari genus Rattus dan Bandiota sebagai inang perantara (Jakel et al., 1996; Jäkel et al., 1999; Ginting dan Jakel, 2005; Qin et al., 2024). Sporokista yang mengandung sporozoit adalah stadium infeksius pada tikus dan dapat diperoleh dalam jumlah besar dari feses ular piton retikulata (Python reticulatus) (Jakel et al., 1996). Morfologi dan ukuran sporokista yang ditemukan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Indonesia, menyerupai morfologi dan ukuran sporokista yang ditemukan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Indonesia,
ARTIKEL ILMIAH POPULER dari artikel yang dipublikasikan pada: Open Veterinary Journal (Open Vet. J. 2026; 16(1): 147-156) dengan title:
Isolation and phylogenetic characterization of Sarcocystis singaporensis isolates from Surabaya python snakes (Malayopython reticulatus) as a biological control agent for rats
Link artikel:





