Kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Di Indonesia, kanker serviks menempati posisi yang sangat mengkhawatirkan karena menjadi salah satu penyebab kematian utama pada perempuan. Data Global Cancer Observatory menunjukkan bahwa tahun 2020 terdapat sekitar 36.633 kasus baru kanker serviks di Indonesia, dengan angka kematian yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Penyakit ini sebagian besar disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang berperan pada hampir seluruh kasus kanker serviks.
Sebagai upaya pencegahan, pemerintah Indonesia telah memperluas program vaksinasi HPV secara nasional melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah(BIAS). Program ini menargetkan siswi sekolah dasar kelas 5 dan 6 sebagai kelompok usia ideal untuk menerima vaksin sebelum terpapar virus HPV. Namun, dalam implementasinya, cakupan vaksinasi di beberapa daerah masih belum mencapai target karena adanya keraguan atau penolakan dari sebagian orang tua.
Untuk memahami fenomena tersebut, sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari FKM Universitas Airlangga mencoba mengkaji bagaimana persepsi dan keyakinan orang tua memengaruhi penerimaan vaksin HPV pada anak perempuan usia sekolah dasar di Surabaya.
Menggali Persepsi Orang Tua terhadap Vaksin HPV
Penelitian ini melibatkan 100 orang tua dari siswi sekolah dasar berusia 11– 12 tahun di lima wilayah Surabaya. Pengumpulan data dilakukan melalui survei kuesioner yang mengevaluasi persepsi orang tua berdasarkan pendekatan Health Belief Model (HBM).
Model ini sering digunakan dalam studi perilaku kesehatan untuk menjelaskan bagaimana seseorang memutuskan melakukan tindakan pencegahan penyakit. Dalam penelitian ini, beberapa aspek yang dianalisis meliputi persepsi kerentanan terhadap penyakit, tingkat keseriusan penyakit, manfaat vaksin, hambatan yang dirasakan, kepercayaan diri dalam mengambil keputusan kesehatan, serta dorongan untuk melakukan tindakan pencegahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik mengenai vaksin HPV. Bahkan, banyak orang tua menyadari bahwa vaksin ini berperan penting dalam mencegah kanker serviks pada masa depan anak perempuan mereka.
Dari sisi cakupan vaksinasi, penelitian menemukan bahwa 80% anak telah menerima vaksin HPV, sementara 20% lainnya belum mendapatkan vaksinasi.
Ketika Pengetahuan Tidak Selalu Berujung pada Tindakan
Temuan menarik dari penelitian ini adalah bahwa tingginya pengetahuan orang tua tidak selalu berbanding lurus dengan keputusan untuk memvaksinasi anak. Analisis statistik menunjukkan bahwa berbagai komponen dalam Health Belief Model— seperti persepsi kerentanan, keseriusan penyakit, manfaat vaksin, maupun hambatan— tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status vaksinasi anak.
Dengan kata lain, meskipun banyak orang tua memahami risiko kanker serviks dan manfaat vaksin HPV, faktor tersebut belum tentu menjadi penentu utama dalam keputusan mereka.
Faktor Sosial dan Informasi Menjadi Tantangan
Penelitian ini mengindikasikan adanya beberapa faktor lain di luar aspek keyakinan kesehatan yang dapat memengaruhi keputusan orang tua.
Salah satunya adalah misinformasi mengenai vaksin. Beberapa orang tua masih memiliki kekhawatiran yang tidak berdasar, seperti anggapan bahwa vaksin HPV dapat menyebabkan kemandulan atau memiliki efek samping yang berbahaya.
Selain itu, pengaruh norma sosial dan lingkungan juga memainkan peran penting. Pendapat keluarga, komunitas, maupun informasi yang beredar di masyarakat dapat memengaruhi sikap orang tua terhadap program vaksinasi.
Faktor lain yang turut berperan adalah tingkat kepercayaan terhadap sistem kesehatan. Apabila masyarakat memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap pemerintah dan tenaga kesehatan, maka penerimaan terhadap program vaksinasi biasanya juga meningkat.
Pentingnya Komunikasi dan Edukasi Publik
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan program vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan kesehatan, tetapi juga oleh komunikasi yang efektif kepada masyarakat.
Edukasi mengenai vaksin HPV perlu dilakukan secara lebih intensif dan berkelanjutan, baik melalui sekolah, fasilitas kesehatan, maupun media komunikasi publik. Informasi yang disampaikan harus berbasis bukti ilmiah dan mampu menjawab berbagai kekhawatiran yang berkembang di masyarakat.
Selain itu, pemanfaatan media digital dan media sosial dapat menjadi strategi penting untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, terutama dalam memberikan informasi yang akurat mengenai manfaat dan keamanan vaksin.
Investasi Kesehatan untuk Masa Depan Perempuan Indonesia
Kanker serviks merupakan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi dan deteksi dini. Oleh karena itu, keberhasilan program vaksin HPV menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan perempuan Indonesia di masa depan.
Kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, tenaga kesehatan, serta masyarakat menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa setiap anak perempuan mendapatkan perlindungan optimal dari risiko kanker serviks.
Melalui edukasi yang tepat dan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap program kesehatan, diharapkan cakupan vaksinasi HPV di Indonesia dapat terus meningkat sehingga generasi muda perempuan dapat tumbuh lebih sehat dan terlindungi dari ancaman penyakit yang dapat dicegah ini.
Penulis: Kurnia Dwi Artanti.





