Universitas Airlangga Official Website

Penuaan dan Kerusakan Tulang Rahang: Memahami Peran “Inflammaging” dalam Kesehatan Mulutc

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia tidak hanya mengalami perubahan yang tampak secara fisik, tetapi juga perubahan biologis yang kompleks hingga tingkat seluler. Salah satu bagian tubuh yang terdampak signifikan adalah tulang rahang, khususnya tulang alveolar yang berfungsi menopang gigi. Artikel review terbaru menunjukkan bahwa proses penuaan berperan besar dalam mengubah cara tulang mengalami kerusakan sekaligus memperlambat proses penyembuhannya. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi yang dikenal sebagai “inflammaging,” yaitu peradangan kronis tingkat rendah yang terjadi secara alami pada usia lanjut.

Dalam kondisi normal, tulang berada dalam keseimbangan dinamis antara proses pembentukan oleh osteoblas dan penghancuran oleh osteoklas. Keseimbangan ini penting untuk menjaga struktur dan fungsi tulang tetap optimal. Namun, pada individu yang lebih tua, keseimbangan tersebut terganggu. Aktivitas pembentukan tulang menurun secara signifikan, sementara aktivitas penghancuran tulang cenderung meningkat. Selain itu, kemampuan sel punca dalam memperbaiki jaringan juga mengalami penurunan. Kondisi ini diperparah oleh perubahan sistem imun yang dikenal sebagai immunosenescence, di mana sistem pertahanan tubuh menjadi kurang efektif dalam melawan infeksi tetapi justru menghasilkan lebih banyak mediator inflamasi. Akibatnya, jaringan tulang berada dalam lingkungan yang cenderung merusak daripada memperbaiki.

Dampak dari perubahan ini sangat nyata dalam berbagai penyakit rongga mulut. Pada periodontitis, misalnya, respons imun terhadap bakteri menjadi tidak seimbang. Sistem imun dapat bereaksi berlebihan sehingga merusak jaringan sehat di sekitar gigi, namun di sisi lain tidak cukup efisien dalam mengendalikan infeksi. Hal ini menyebabkan kerusakan tulang berlangsung lebih cepat dan penyembuhan menjadi lebih lambat. Kondisi serupa juga terlihat pada lesi periapikal, di mana infeksi kronis di ujung akar gigi menjadi lebih sulit disembuhkan akibat menurunnya kapasitas regenerasi tulang. Pada kasus kanker di area mulut, proses kerusakan tulang bahkan dapat berlangsung lebih agresif karena kombinasi antara aktivitas tumor dan kualitas jaringan tulang yang telah melemah akibat penuaan.

Salah satu mekanisme penting yang menjelaskan fenomena ini adalah akumulasi sel-sel tua atau senescent cells dalam jaringan tulang. Sel-sel ini tidak lagi menjalankan fungsi normalnya, tetapi tetap aktif secara metabolik dan menghasilkan berbagai zat proinflamasi. Lingkungan mikro yang terbentuk menjadi semakin tidak kondusif bagi proses penyembuhan. Selain itu, aktivasi jalur molekuler tertentu seperti inflammasome juga berkontribusi dalam meningkatkan pembentukan osteoklas, sehingga mempercepat proses resorpsi tulang. Dengan kata lain, proses penuaan menciptakan kondisi biologis di mana kerusakan jaringan lebih dominan dibandingkan perbaikannya.

Meskipun temuan ini menunjukkan tantangan besar dalam menjaga kesehatan tulang pada usia lanjut, penelitian ini juga membuka peluang baru dalam pengembangan terapi. Pendekatan modern tidak lagi hanya berfokus pada penanganan gejala, tetapi mulai menargetkan mekanisme dasar penuaan itu sendiri. Salah satu strategi yang sedang dikembangkan adalah terapi senolitik, yaitu pendekatan untuk mengeliminasi sel-sel tua yang merugikan. Selain itu, penghambatan mediator inflamasi dan pendekatan imunomodulasi juga menjadi fokus penelitian untuk mengembalikan keseimbangan respons imun. Dengan pendekatan ini, diharapkan proses kerusakan dapat ditekan sekaligus meningkatkan kemampuan regenerasi jaringan.

Implikasi dari temuan ini sangat penting dalam praktik kedokteran gigi, terutama dalam menangani pasien usia lanjut. Perawatan konvensional seperti pembersihan karang gigi, terapi periodontal, atau prosedur regeneratif mungkin tidak memberikan hasil optimal jika tidak mempertimbangkan perubahan biologis akibat penuaan. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih personal dan berbasis kondisi biologis pasien menjadi semakin relevan. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran inflammaging dapat membantu klinisi dalam merancang strategi perawatan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, penuaan bukan hanya proses alami yang tidak dapat dihindari, tetapi juga faktor aktif yang memengaruhi dinamika penyakit dan penyembuhan dalam rongga mulut. Dengan memahami mekanisme seperti inflammaging dan perubahan sistem imun, dunia kedokteran gigi memiliki peluang besar untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih inovatif dan tepat sasaran. Ke depan, integrasi antara ilmu dasar, teknologi, dan pendekatan klinis yang personal akan menjadi kunci dalam menjaga kesehatan tulang rahang, terutama pada populasi usia lanjut.

Penulis:

Meircurius DC Surboyo

Tulisan lengkap kami dapat dilihat di

Surboyo, M.D.C., Sirisereephap, K. & Maekawa, T. Inflammaging in periodontal, periapical, and malignancy-associated disease: drivers of alveolar bone loss and repair. J Bone Miner Metab (2026). https://doi.org/10.1007/s00774-026-01706-2