Universitas Airlangga Official Website

Disiplin Vaksinasi Kucing Lindungi Nyawa dari Infeksi Penyakit Berbahaya

Meningkatnya kasus penyakit virus kucing dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian serius bagi pemilik hewan. Penyakit seperti Feline Panleukopenia, Feline Herpesvirus, dan Feline Calicivirus teridentifikasi sangat menular maupun menyebar dengan cepat. Vaksinasi merupakan langkah utama dalam mencegah berbagai penyakit infeksius. Penerapan vaksinasi mampu meminimalkan risiko infeksi hingga 70%. Vaksinasi sebelum tindakan steril kucing juga disarankan memastikan kucing terjaga dari infeksi berbahaya saat imun turun setelah operasi. Penting bagi pemilik hewan memahami jenis vaksin, jadwal pemberian, dan risiko yang mungkin dihadapi oleh kucing peliharaan.

Pemilik Wajib Penuhi Vaksin Inti

Berdasarkan pedoman dari World Small Animal Veterinary Association (WSAVA) Tahun 2024 membagi vaksinasi kucing menjadi dua kelompok utama. Yaitu vaksin inti (core) dan non-inti (non-core). Vaksin inti wajib diberikan pada kucing agar terlindung dari penyakit akibat virus dari Feline Panleukopenia Virus (FPV), Feline Herpesvirus (FHV), Feline Calicivirus , Rabies, dan Feline Leukemia Virus (FeLV).

Di Indonesia tatanan vaksin wajib tersebut terbagi menjadi tiga dosis berbeda. Pertama, yaitu vaksinasi F3 untuk melindungi dari Feline Panleukopenia, Feline Herpesvirus, dan Feline Calicivirus. Pemberian dimulai sejak usia 6-8 minggu dengan pengulangan setiap 3-4 minggu hingga kucing berusia minimal 16 minggu. Pada kondisi risiko tinggi vaksinasi dapat diperpanjang hingga usia 20 minggu.

Tahapan vaksinasi kucing berdasarkan usia

Vaksinasi booster disarankan saat usia 6 bulan untuk memperkuat kekebalan tubuh. Dilanjutkan setiap tiga tahun pada kucing dengan risiko rendah. Untuk kucing dengan risiko tinggi seperti yang sering keluar rumah atau dititipkan di penitipan hewan, vaksinasi dapat dilakukan lebih sering sesuai pertimbangan dokter hewan.

Kedua, ada vaksinasi rabies dengan waktu pemberian mengikuti regulasi dinas setempat. Ketiga, terdapat vaksinasi FeLV yang direkomendasikan untuk kucing muda atau kucing yang memiliki kemungkinan kontak dengan kucing lain. Pemberian dimulai sejak usia 8 minggu dengan dua kali suntikan awal dan booster tahunan jika risiko paparan tetap tinggi. Penting untuk memastikan bahwa kucing dalam kondisi negatif FeLV sebelum dilakukan vaksinasi.

Tiga Jenis Vaksin Non Inti

Terdapat tiga rekomendasi vaksinasi non inti yang dapat diberikan bagi kucing. Feline Immunodeficiency Virus (FIV) yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh kucing. Vaksin ini diberikan sebanyak tiga kali sejak usia 8 minggu dengan jarak antar dosis sekitar 2-3 minggu. Booster dilakukan satu tahun kemudian dan dilanjutkan setiap tahun pada kucing yang memiliki risiko tinggi. Pencegahan terbaik FIV tetap dengan menghindari kontak dengan kucing terinfeksi. Vaksin FIV memiliki keterbatasan ketersediaan dan tidak selalu tersedia di semua negara

Vaksin lain yang dapat diberikan untuk mencegah infeksi bakteri Chlamydophila felis yang sering menyebabkan gangguan pada mata dan saluran pernapasan. Vaksin diberikan mulai usia 8–9 minggu dengan dua kali penyuntikan berjarak 2-4 minggu. Diulang setiap tahun jika kucing berada dalam lingkungan berisiko. Penggunaan vaksin itu direkomendasikan menjadi bagian dari upaya pengendalian penyakit secara kelompok. Selain itu, terdapat vaksin Bordetella bronchiseptica dengan pemberian melalui intranasal. Vaksin ini dapat diberikan sejak usia 4 minggu dan biasanya hanya satu dosis dengan pengulangan tahunan pada kucing yang berisiko. Namun, vaksin ini lebih direkomendasikan untuk kucing yang hidup di koloni besar atau sering berada di tempat penitipan.

Pilih Vaksinasi F3 atau F4?

Pemberian vaksin tambahan harus mempertimbangkan kondisi dan gaya hidup kucing. Tidak semua kucing memerlukan vaksin non-core sehingga konsultasi dengan dokter hewan menjadi langkah penting sebelum menentukan jenis vaksin yang akan diberikan. Beberapa owner juga masih bingung memilih vaksin F3 dan F4. Vaksin F4 sendiri merupakan pengembangan dari F3 yang merupakan vaksin inti dengan tambahan perlindungan terhadap Chlamydophila felis. Komponen tambahan pada F4 termasuk vaksin non-inti sehingga penggunaannya disesuaikan dengan tingkat risiko kucing terutama bagi kitten. Pemilihan lebih fleksibel disesuaikan dengan lingkungan dan gaya hidup hewan. Pemilik hewan peliharaan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter hewan dalam pemilihannya

Vaksinasi tak hanya sekedar rutinitas. Tapi memberikan perlindungan penyakit yang harus dilakukan secara tepat. Pemeriksaan kesehatan sebelum vaksinasi juga penting untuk memastikan kucing dalam kondisi sehat sehingga respons imun dapat terbentuk dengan baik.

Penulis: Azhar Burhanuddin (Mahasiswa Profesi Dokter Hewan)

Editor: Avicena C. Nisa