Selama puluhan tahun, teori ekonomi klasik memegang teguh asumsi bahwa investor adalah makhluk rasional yang selalu membuat keputusan berdasarkan data dan logika demi keuntungan maksimal. Namun, fenomena pasar seperti lonjakan harga saham GameStop yang tidak wajar atau kepanikan massal saat pandemi menunjukkan bahwa ada faktor lain yang bermain: psikologi manusia. Bidang studi yang menjembatani psikologi dan keuangan ini dikenal sebagai Behavioural Finance (Keuangan Perilaku).
Sebuah studi literatur terbaru yang diterbitkan dalam Ianna Journal of Interdisciplinary Studies (2026) melakukan pemetaan komprehensif terhadap perkembangan riset behavioural finance selama dua dekade terakhir (2002-2025). Dengan menganalisis 108 artikel ilmiah dari basis data Scopus, penelitian ini mengungkap bagaimana emosi, bias kognitif, dan sentimen sosial membentuk wajah pasar saham modern.
Pergeseran Paradigma: Dari Logika ke Emosi
Studi ini menemukan bahwa publikasi mengenai perilaku keuangan terus meningkat, terutama sejak tahun 2022. Hal ini menandakan bahwa para akademisi dan praktisi semakin sadar bahwa Teori Pasar Efisien (Efficient Market Hypothesis) sering kali gagal menjelaskan anomali pasar. Sebaliknya, faktor kognitif dan emosional seperti ketakutan, keserakahan, dan kepercayaan diri berlebih (overconfidence) terbukti menjadi motor penggerak volatilitas harga saham.
Para peneliti mengidentifikasi empat klaster utama yang mendominasi diskusi ilmiah saat ini:
- Keputusan Investor Individu: Fokus pada bagaimana individu terjebak dalam bias seperti herding (ikut-ikutan) dan heuristik (jalan pintas mental). Menariknya, riset menunjukkan perbedaan perilaku berdasarkan gender, di mana pria cenderung lebih sering melakukan transaksi (overtrading) dengan hasil yang lebih rendah dibandingkan wanita.
- Efisiensi Pasar dan Perilaku: Menjelaskan bahwa inefisiensi pasar sering kali dipicu oleh bias psikologis yang menyebabkan harga saham menyimpang dari nilai fundamentalnya.
- Sentimen Investor: Mempelajari bagaimana suasana hati kolektif masyarakat, yang dipicu oleh berita atau media sosial, dapat memprediksi pergerakan pasar. Penggunaan teknologi digital dan media sosial memperkuat peran sentimen ini dalam menciptakan ketidakstabilan pasar.
- Pasar Saham Negara Berkembang: Di negara-negara berkembang seperti India, Malaysia, dan Indonesia, faktor non-ekonomi seperti cuaca, budaya, dan lemahnya regulasi sering kali lebih berpengaruh terhadap keputusan investasi dibandingkan fundamental ekonomi perusahaan itu sendiri.
Geografi Riset: Asia Memimpin
Secara mengejutkan, kontribusi riset dalam bidang ini didominasi oleh para peneliti dari Asia dan Eropa. India menempati posisi puncak sebagai negara paling produktif, diikuti oleh Tiongkok dan Malaysia. Hal ini menunjukkan ketertarikan yang besar di wilayah tersebut untuk memahami perilaku investor retail yang populasinya terus melonjak berkat demokratisasi platform trading digital.
Meskipun riset telah berkembang pesat, masih ada celah yang perlu diisi. Sebagian besar penelitian saat ini masih bersifat jangka pendek dan menggunakan data historis. Studi ini merekomendasikan agar riset di masa depan lebih mendalami pengaruh teknologi terbaru, seperti robo-advisors dan algoritma perdagangan, terhadap bias manusia. Apakah teknologi tersebut membantu menstabilkan emosi investor atau justru menciptakan “ruang gema” (echo chambers) yang memperparah irasionalitas?
Bagi para pembuat kebijakan, temuan ini sangat krusial. Regulator didorong untuk mengintegrasikan wawasan perilaku ini ke dalam program literasi keuangan dan kerangka regulasi pasar. Memahami bahwa investor bukan sekadar “mesin hitung” akan membantu menciptakan sistem perlindungan investor yang lebih efektif dan pasar yang lebih stabil.
Dunia keuangan bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan refleksi dari perilaku manusia yang kompleks. Dengan memahami sisi psikologis investasi, kita tidak hanya belajar memprediksi pasar dengan lebih baik, tetapi juga belajar untuk mengenali dan mengendalikan bias dalam diri kita sendiri saat mengambil keputusan finansial.
Penulis: Dr. Windijarto, S.E., MBA
Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/revisiting-the-literature-of-behavioural-finance-in-the-stock-mar/





