Universitas Airlangga Official Website

Peran Vital Perawat dalam Memerangi TBC: Riset Terbaru Ungkap Enam Strategi Kunci yang Ubah Nasib Pasien

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Surabaya, 2026 — Tuberkulosis (TBC) masih menjadi momok kesehatan global yang belum sepenuhnya takluk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 10,8 juta kasus baru TBC di seluruh dunia pada tahun 2023, dengan angka kematian mencapai 1,5 juta jiwa per tahun. Di tengah tantangan besar ini, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Research in Nursing (2026) menghadirkan angin segar: intervensi yang dipimpin oleh perawat terbukti secara nyata mampu meningkatkan kualitas hidup dan keberhasilan pengobatan pasien TBC. Penelitian bertajuk “Nurse-Led Interventions in Enhancing Outcomes for Patients with Tuberculosis: A Scoping Review” ini diprakarsai oleh tim peneliti dari Universitas Airlangga, Universitas Tanjungpura, dan Taipei Medical University.

Melalui metode scoping review yang sistematis, tim peneliti menyaring lebih dari 6.000 studi dari berbagai penjuru dunia dan akhirnya menganalisis 11 penelitian yang melibatkan total 1.044 pasien TBC. Hasilnya mengejutkan: ditemukan enam domain intervensi keperawatan yang terbukti memberi dampak signifikan bagi pasien, yakni (1) edukasi kesehatan, (2) dukungan psikologis, (3) latihan pernapasan, (4) panduan pengobatan, (5) dukungan nutrisi, dan (6) instruksi pemulangan pasien. Sebagian besar intervensi — sekitar 73 persen — dilaksanakan di layanan kesehatan primer dan komunitas, berlangsung selama 1 hingga 24 bulan, serta disampaikan secara tatap muka dengan pendekatan yang berpusat pada pasien. Edukasi kesehatan dan panduan pengobatan menjadi komponen yang paling banyak diterapkan, masing-masing hadir di 72,7 persen studi yang dianalisis, mencerminkan betapa krusialnya peran perawat sebagai jembatan antara sistem medis dan pasien.

Yang menarik, penelitian ini juga menyoroti dimensi inovatif dalam praktik keperawatan TBC masa kini. Beberapa studi melaporkan penggunaan platform digital seperti WeChat untuk menyampaikan informasi kesehatan dan pengingat minum obat, serta pendekatan berbasis komunitas yang melibatkan kader kesehatan. Intervensi psikologis yang dilakukan perawat — mulai dari konseling emosional, membangun rasa percaya diri, hingga pelibatan keluarga sebagai sistem pendukung — terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan dan memperkuat motivasi pasien dalam menyelesaikan pengobatan yang panjang. Peneliti menegaskan bahwa keenam domain intervensi ini tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi membentuk sebuah pendekatan perawatan yang holistik, berkelanjutan, dan berpusat pada kebutuhan individu pasien — sebuah pola yang selaras dengan strategi global End TB yang dicanangkan WHO.

Penelitian ini menutup dengan seruan tegas kepada para pemangku kebijakan dan pengelola program kesehatan: sudah saatnya intervensi berbasis keperawatan diintegrasikan secara formal ke dalam jalur penanganan TBC nasional, terutama di fasilitas layanan primer dan komunitas. Para peneliti juga merekomendasikan penguatan kurikulum pendidikan keperawatan, peningkatan kapasitas perawat melalui pelatihan terstruktur, serta pengembangan penelitian lanjutan yang menjangkau kelompok yang selama ini kurang terwakili — seperti anak-anak, pasien TBC laten, dan penderita TBC yang resistan terhadap obat (MDR-TB). “Perawat bukan hanya pelaksana instruksi medis, mereka adalah koordinator perawatan yang memiliki peran sentral dalam memastikan pasien TBC berhasil menyelesaikan pengobatan dan pulih secara menyeluruh,” demikian pesan kuat yang ditinggalkan oleh riset ini sebagai bekal bagi masa depan pengendalian TBC di Indonesia dan dunia.

Penulis,

Hidayat Arifin,

Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga, Surabaya

Sumber: Yulanda et al. (2026). Nurse-led interventions in enhancing outcomes for patients with tuberculosis: a scoping review. Journal of Research in Nursing. DOI: 10.1177/17449871261421174