Universitas Airlangga Official Website

Amniopatch: Harapan Baru Ketuban Pecah Dini

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kelahiran prematur masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian bayi baru lahir di dunia. Salah satu penyebab tersering adalah ketuban pecah dini sebelum waktunya atau Preterm Premature Rupture of Membranes (PPROM), yang menyumbang sekitar 30–40% dari seluruh persalinan prematur spontan. Di Indonesia, angka kematian neonatal pada bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 28 minggu masih sangat tinggi, yaitu mencapai 81%. Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, PPROM menjadi penyebab kedua persalinan prematur pada periode 2014–2017 sebesar 26%. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan yang efektif untuk mempertahankan kehamilan sangat dibutuhkan guna meningkatkan peluang hidup bayi.

Salah satu metode yang mulai dikembangkan adalah prosedur amniopatch. Tindakan ini dilakukan dengan memasukkan komponen darah ibu ke dalam rongga ketuban menggunakan bantuan ultrasonografi. Tujuannya adalah membantu menutup kebocoran pada selaput ketuban sehingga cairan ketuban dapat meningkat kembali. Cairan ketuban memiliki peran penting dalam melindungi janin dan mendukung perkembangan organ, terutama paru-paru.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa amniopatch berpotensi membantu meningkatkan jumlah cairan ketuban dan memperpanjang usia kehamilan pada kasus ketuban pecah dini sebelum waktunya. Tambahan waktu kehamilan ini penting karena memberi kesempatan bagi janin untuk berkembang lebih matang sebelum dilahirkan. Dalam penelitian ini, amniopatch mampu menunda persalinan selama beberapa hari hingga lebih dari dua minggu. Waktu tambahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk terapi pematangan paru janin sehingga peluang keselamatan bayi menjadi lebih baik. Pada penanganan standar ketuban pecah dini, pasien biasanya mendapatkan antibiotik dan pemantauan kondisi ibu serta janin. Namun, apabila cairan ketuban terus berkurang atau kondisi janin memburuk, persalinan sering kali harus segera dilakukan. Oleh karena itu, amniopatch dapat menjadi salah satu pilihan terapi tambahan untuk membantu mempertahankan kehamilan lebih lama. Meski demikian, keberhasilan amniopatch tidak selalu sama pada setiap pasien. Adanya infeksi, besarnya kebocoran selaput ketuban, dan kondisi cairan ketuban sebelum tindakan dapat memengaruhi hasil prosedur. Karena itu, pemilihan pasien yang tepat sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan terapi.

Penelitian ini merupakan pengalaman awal penggunaan amniopatch pada kasus ketuban pecah dini spontan di rumah sakit pendidikan dengan keterbatasan sumber daya di Indonesia. Secara keseluruhan, amniopatch menunjukkan potensi sebagai alternatif terapi untuk membantu menunda persalinan prematur dan meningkatkan peluang keselamatan bayi. Namun, penelitian lebih lanjut dengan jumlah pasien yang lebih besar masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanan prosedur ini.

Penulis: Rozi Aditya Aryananda, dr., Sp.OG Subsp K.FM., PhD

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.jogcr.com/article_731911.html