Universitas Airlangga Official Website

Sisyphus Struggle Theory: Finding Meaning in Endless Organizational Challenges

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Di tengah dinamika organisasi modern, banyak karyawan menghadapi tekanan kerja yang berulang, seperti target yang terus meningkat, perubahan kebijakan, hingga tuntutan produktivitas tanpa henti. Kondisi ini sering memicu burnout dan disengagement. Namun, apakah tekanan tersebut selalu berdampak negatif?

Artikel ini mengangkat konsep Sisyphus Struggle Theory, yang menggabungkan filosofi absurditas dari mitos Sisyphus dengan pendekatan Positive Organizational Behavior (POB), Self-Determination Theory (SDT), dan model PERMA. Pendekatan ini menawarkan cara pandang baru: bahwa tantangan yang berulang justru dapat menjadi sumber makna dan kesejahteraan dalam organisasi.

Artikel ini bertujuan menjelaskan bagaimana organisasi dan pemimpin dapat mengelola perpetual organizational challenges untuk meningkatkan employee well-being dan mempertahankan positive organizational behavior.

Konsep utama dalam artikel ini adalah bahwa tantangan yang tidak pernah selesai bukanlah masalah yang harus dihindari, melainkan proses yang harus dimaknai. Dalam Sisyphus Struggle Theory, karyawan tidak lagi dipandang sebagai “korban beban kerja”, tetapi sebagai “pemilik proses”.

Pendekatan ini diperkuat oleh Self-Determination Theory (SDT) yang menekankan tiga kebutuhan psikologis utama: autonomy, competence, dan relatedness. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, karyawan lebih mampu menghadapi tekanan kerja secara positif.

Selain itu, model PERMA (Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, Achievement) membantu menjelaskan bahwa makna kerja (meaning) menjadi kunci utama dalam menghadapi rutinitas yang berulang. Ketika karyawan memahami tujuan dari pekerjaannya, mereka cenderung lebih engaged dan resilient.

Peran pemimpin juga sangat penting. Pemimpin tidak hanya berfungsi sebagai pengarah, tetapi juga sebagai “mythmaker” yang mampu membangun narasi positif terhadap pekerjaan sehari-hari. Dengan memanfaatkan emotional intelligence, pemimpin dapat mengubah persepsi karyawan dari beban menjadi peluang untuk berkembang.

Pendekatan ini memiliki implikasi praktis bagi organisasi. Pertama, organisasi perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung psychological capital (PsyCap) seperti harapan, optimisme, dan resiliensi. Kedua, desain pekerjaan harus memungkinkan terciptanya kondisi flow, di mana tantangan seimbang dengan kemampuan individu.

Ketiga, pemimpin perlu mengembangkan gaya kepemimpinan yang adaptif, empatik, dan mampu membangun makna kerja secara kolektif.

Sisyphus Struggle Theory mengajarkan bahwa keberhasilan organisasi tidak terletak pada hilangnya masalah, tetapi pada kemampuan untuk terus berkembang di tengah tantangan.

Dengan memenuhi kebutuhan psikologis karyawan, membangun makna kerja, dan menerapkan kepemimpinan yang tepat, organisasi dapat mengubah tekanan menjadi sumber pertumbuhan. Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi tentang proses yang terus berjalan menuju perbaikan yang berkelanjutan.

Penulis: Ansar Abbas, Madiha Yousaf, Rabia Bibi, Dian Ekowati, Fendy Suhariadi

Artikel bisa diakses di : https://scholar.unair.ac.id/en/publications/sisyphuss-boulder-flourishing-through-perpetual-organizational-ch/

Abbas, A., Yousaf, M., Bibi, R., Ekowati, D., & Suhariadi, F. (2026). Sisyphus’s Boulder: Flourishing Through Perpetual Organizational Challenges to Positive Organizational Behavior. Integrative psychological & behavioral science60(2), 33. https://doi.org/10.1007/s12124-026-09991-2