Peneliti dari Universitas Airlangga berhasil mengembangkan pemanfaatan lumpur vulkanik Lapindo sebagai material adsorben berbiaya rendah untuk mengatasi pencemaran limbah pewarna tekstil. Melalui proses aktivasi menggunakan asam klorida dan iradiasi gelombang mikro (microwave), material ini menunjukkan kemampuan tinggi dalam menyerap zat warna berbahaya dari air limbah artificial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lumpur vulkanik Lapindo mengandung silika sebagai komponen utama, dengan kandungan hampir mencapai setengah dari total material. Selain itu, terdapat kandungan besi oksida yang memberikan warna abu-abu khas pada lumpur tersebut.
Tim peneliti melakukan aktivasi lumpur menggunakan perlakuan asam dan pemanasan microwave pada berbagai tingkat daya. Berdasarkan hasil analisis sifat material, perlakuan microwave mampu meningkatkan luas permukaan, memperbaiki distribusi ukuran partikel, serta menghasilkan struktur berpori meso yang lebih optimal untuk proses adsorpsi.
Iradiasi microwave dengan daya 600 watt ditemukan sebagai kondisi terbaik untuk proses aktivasi. Pada kondisi ini, luas permukaan material meningkat secara signifikan sehingga kemampuan penyerapannya terhadap zat warna juga bertambah.
Untuk menguji kinerjanya, peneliti menggunakan dua jenis pewarna sintetis yang umum ditemukan dalam limbah tekstil, yaitu methylene blue (MB) yang bersifat kationik dan methyl orange (MO) yang bersifat anionik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa adsorben dari lumpur Lapindo mampu menyerap metilen biru hingga 189,02 mg per gram dengan efisiensi penghilangan mencapai 95,27 persen. Sementara itu, untuk metil oranye, kapasitas adsorpsi mencapai 128,29 mg per gram dengan efisiensi penghilangan sebesar 64,15 persen.
Pencemaran limbah pewarna tekstil menjadi perhatian global karena zat warna sintetis diketahui sulit terurai dan dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, seperti iritasi kulit, kerusakan hati dan ginjal, gangguan sistem saraf, hingga mutasi DNA. Oleh karena itu, pengembangan adsorben murah dan ramah lingkungan menjadi sangat penting.
Lumpur Lapindo sendiri merupakan material hasil semburan lumpur yang terjadi di Sidoarjo sejak 29 Mei 2006. Hingga kini, lumpur tersebut masih terus mengalir dan diperkirakan akan berlangsung selama beberapa dekade ke depan. Pemanfaatan lumpur sebagai bahan adsorben tidak hanya membantu mengurangi dampak lingkungan akibat akumulasi lumpur, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi material yang selama ini dianggap sebagai limbah.
Penelitian ini menunjukkan bahwa lumpur vulkanik Lapindo yang diaktivasi dengan asam dan microwave berpotensi sebagai alternatif adsorben yang ekonomis, berkelanjutan, dan efektif untuk pengolahan limbah industri tekstil.
Penulis: Qurrota A’yuni, S.Si., M.Si.
Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/acid-activation-assisted-by-microwave-of-lapindo-volcanic-mud-for/


