Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Strategi koping sebagai prediktor utama keberhasilan diet eliminasi pada anak-anak Indonesia dengan alergi makanan yang dimediasi IgE. Diet Eliminasi Pada Anak Dengan Alergi Makanan

4 Views•3 minutes read

Alergi makanan adalah gangguan imunologis yang umumnya menyerang anak-anak, dengan prevalensi yang meningkat secara global. Di Asia, prevalensi alergi makanan di kalangan anak-anak telah mendekati prevalensi di negara-negara Barat, berkisar antara 5% hingga 10%. Alergen yang paling sering dilaporkan meliputi susu sapi, telur, kacang tanah, kedelai, dan ikan. Manifestasi klinis sangat bervariasi, mulai dari urtikaria dan gangguan pencernaan hingga anafilaksis yang mengancam jiwa.

Diagnosis alergi makanan pada anak-anak seringkali sulit karena akurasi tes serologis dan tes tusuk kulit yang terbatas, serta kompleksitas gejala yang dapat menyerupai kondisi lain. Dalam konteks ini, diet eliminasi berfungsi sebagai pendekatan diagnostik dan terapeutik yang penting. Metode ini melibatkan eliminasi total makanan yang diduga alergen selama periode tertentu, diikuti dengan pengenalan kembali secara bertahap untuk mengidentifikasi pemicu spesifik secara klinis. Diet eliminasi tidak hanya membantu mengkonfirmasi diagnosis tetapi juga berperan dalam mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup baik bagi anak maupun keluarganya.

Namun, penerapan diet eliminasi pada anak memerlukan perhatian yang cermat terhadap kecukupan nutrisi dan hasil perkembangan, karena eliminasi makanan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kekurangan mikronutrien sehingga bersisiko terhadap pertumbuhan linier dan perkembangan neurokognitif. Oleh karena itu, diet eliminasi selain diawasi tenaga kesehatan berkualifikasi untuk memastikan kecukupan nutrisi selama fase eliminasi dan pengenalan kembali juga harus memonitor faktor psikososial, dimana berperan penting dalam keberhasilan diet eliminasi. Di negara berkembang seperti Indonesia, tantangan tambahan muncul dari akses terbatas ke layanan alergi anak, pendidikan publik yang tidak memadai, dan keterbatasan sumber daya dalam memantau kepatuhan diet. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan diet eliminasi, sehingga berkontribusi pada pengembangan pedoman klinis yang lebih adaptif dan berbasis bukti.

Metode dan Hasil

Dilakukan analisis retrospektif dilakukan yang melibatkan pengasuh anak-anak yang menjalani diet eliminasi. Mekanisme koping dievaluasi menggunakan F-COPES, stres yang dirasakan melalui PSS, dan beban keluarga melalui FAIS. Perbandingan dilakukan antara kelompok dengan hasil diet yang berhasil dan tidak berhasil. Analisis regresi logistik bivariat dan multivariat dilakukan untuk mengidentifikasi prediktor independen keberhasilan diet, dengan regresi linier berganda dilakukan sebagai analisis tambahan. Didapatkan hasil yaitu, pengasuh dalam kelompok yang berhasil menunjukkan skor F-COPES yang secara signifikan lebih tinggi (p < 0,001), terutama dalam domain perolehan dukungan sosial (p < 0,001) dan pembingkaian kognitif (p = 0,042). Skor FAIS lebih rendah pada kelompok ini (p = 0,025), dengan berkurangnya keterbatasan sosial (p = 0,030). Analisis bivariat mengungkapkan hubungan positif antara F-COPES dan keberhasilan (OR = 1,155; 95% CI = 1,089–1,225; p < 0,001), sedangkan FAIS berasosiasi negatif (OR = 0,541; 95% CI = 0,322 – 0,910; p = 0,016). Dalam analisis multivariat, hanya F-COPES yang tetap menjadi prediktor independen yang signifikan (OR = 1,159; 95% CI = 1,088–1,235; p < 0,001). Tidak ada perbedaan signifikan yang diamati pada skor PSS (p = 0,158), menunjukkan bahwa kapasitas koping, bukan tingkat stres absolut, adalah penentu yang kritis.

Penulis : Azwin Mengindra Putera, dr, SpA(K)

NIP     : 197812142008121002

HP       : 08113004112

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://doi.org/10.1186/s41110-026-00460-9

Azwin Mengindra Putera dan Irwanto (2026). Coping strategies as the primary predictors of elimination diet success in Indonesian children with IgE-mediated food allergies. Nutrire (2026) 51:47

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
If loading takes to long, go back to home by click here .