Di era digitalisasi kesehatan, layanan konsultasi jarak jauh atau tele-counselling menjadi angin segar bagi efisiensi pelayanan apoteker. Melalui media ini, pasien tidak perlu lagi mengantre lama di rumah sakit hanya untuk berkonsultasi tentang obat mereka. Namun, tantangan besar muncul ketika edukasi dilakukan tanpa tatap muka langsung: bagaimana memastikan pasien benar-benar paham cara menggunakan obat mereka, terutama bagi penyakit kronis seperti Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2).
Masalah literasi kesehatan (health literacy) kerap menjadi batu sandungan. Instruksi dosis yang rumit, jadwal suntik insulin yang ketat, hingga aturan penyimpanan obat sering kali disalahpahami oleh pasien. Melihat celah tersebut, tim peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga melakukan studi di salah satu klinik rawat jalan rumah sakit tersier di Surabaya, Indonesia. Peneliti mengembangkan inovasi visual berupa piktogram (simbol gambar) khusus yang berkonteks lokal Indonesia untuk mendampingi layanan tele-counselling oleh apoteker.
Bagi pasien diabetes, salah memahami instruksi pengobatan dapat berdampak fatal pada kadar gula darah mereka. Piktogram hadir sebagai jembatan komunikasi visual yang universal. Gambar-gambar ini dirancang khusus untuk mempermudah pemahaman pasien mengenai: (a) petunjuk pemakaian obat dan pengaturan waktu konsumsi, (b) jadwal, teknik penyuntikan, dan cara penyimpanan insulin yang benar, (c) panduan gaya hidup sehat serta pengaturan pola makan (diet) harian. Namun, membuat gambar yang mudah dipahami tidaklah instan. Gambar tersebut harus divalidasi secara ilmiah agar tidak menimbulkan salah tafsir.
Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dan metode test-retest ini dilakukan selama 6 bulan. Peneliti melibatkan 55 pasien rawat jalan penderita DMT2 berusia 35–65 tahun yang melek huruf dan tidak memiliki gangguan penglihatan. Untuk memastikan akurasi konten, sebanyak 38 rancangan piktogram ditinjau langsung oleh panel ahli yang terdiri dari tiga apoteker dan seorang dokter spesialis endokrinologi. Setelah itu, tingkat pemahaman pasien diuji sebanyak dua kali dengan jeda waktu 4 bulan untuk melihat konsistensi pemahaman mereka (test-retest reliability). Berdasarkan standar ISO 9186, sebuah piktogram dinyatakan lolos dan diterima jika berhasil dipahami oleh minimal 66,7% responden.
Hasil penelitian ini sangat menggembirakan. Sebagian besar partisipan adalah perempuan (63,6%), dengan kelompok usia terbanyak berada pada rentang 56–65 tahun (56,4%). Meskipun mayoritas berpendidikan minimal SMA (78,2%), keberadaan piktogram terbukti sangat meningkatkan efektivitas komunikasi. Banyak piktogram mudah dipahami dengan tingkat pemahaman yang luar biasa, bahkan menembus angka di atas 90% untuk kategori petunjuk waktu minum obat dan instruksi penggunaan insulin. Piktogram terkait gaya hidup sehat juga dipahami dengan sangat baik, dengan tingkat pemahaman minimal 78%. Melalui analisis statistik (uji Chi-square dan Wilcoxon signed-rank), sebanyak 17 piktogram spesifik Indonesia dinyatakan memenuhi seluruh kriteria kelayakan dan terbukti stabil. Artinya, ingatan dan pemahaman pasien terhadap arti gambar tersebut tidak berubah meski diuji kembali beberapa bulan kemudian.
Studi ini menyimpulkan bahwa penggunaan piktogram yang tervalidasi dapat menjadi alat bantu (tools) yang sangat kuat bagi apoteker dalam menjalankan tele-counselling. Kombinasi antara penjelasan verbal apoteker dan visualisasi piktogram melalui layar gawai dapat meminimalkan risiko kesalahan pemberian obat (medication error) di rumah.
Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas komunikasi digital di bidang farmasi klinik, tetapi juga membuka jalan bagi intervensi kesehatan yang lebih ramah pasien, berpusat pada pasien (patient-centered), dan adaptif terhadap perkembangan teknologi di Indonesia. Dengan pemahaman yang lebih baik, kepatuhan terapi pasien diabetes diharapkan meningkat, sehingga kualitas hidup mereka pun terjaga secara optimal.
Andi Hermansyah
Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
Artikel lengkap dapat dibaca di Tropical Journal of Pharmaceutical Research https://www.ajol.info/index.php/tjpr/article/view/321773
