Universitas Airlangga Official Website

Domba Sehat Belum Tentu Bebas Ancaman: Mengungkap Resistensi Antibiotik pada Bakteri Citrobacter spp.

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Ketika berbicara tentang resistensi antibiotik, sebagian besar masyarakat mungkin langsung membayangkan pasien di rumah sakit atau bakteri penyebab infeksi yang sulit diobati. Padahal, ancaman resistensi antibiotik juga berkembang secara diam-diam di lingkungan peternakan, bahkan pada hewan yang tampak sehat. Salah satu bakteri yang mulai mendapat perhatian para peneliti adalah Citrobacter spp., bakteri Gram-negatif yang secara alami hidup di saluran pencernaan manusia maupun hewan. Selama bertahun-tahun bakteri ini dianggap sebagai mikroorganisme normal. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa Citrobacter dapat berubah menjadi patogen oportunistik yang menyebabkan infeksi saluran kemih, gangguan pencernaan, septicemia, hingga infeksi luka. Yang lebih mengkhawatirkan, bakteri ini memiliki kemampuan tinggi untuk memperoleh dan menyebarkan gen resistensi antibiotik. 

Fenomena ini menjadi bagian dari persoalan global yang dikenal sebagai Antimicrobial Resistance (AMR). Organisasi kesehatan dunia menempatkan AMR sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan manusia dan hewan. Penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak rasional pada peternakan telah mempercepat munculnya bakteri yang kebal terhadap berbagai jenis antibiotik. Akibatnya, bakteri resisten dapat menyebar melalui kontak langsung dengan hewan, lingkungan peternakan, hingga rantai pangan. Dalam sistem peternakan rakyat, domba memiliki peran penting sebagai sumber protein dan penopang ekonomi masyarakat pedesaan. Namun, saluran pencernaan domba juga dapat menjadi tempat hidup berbagai bakteri resisten. Oleh karena itu, pemantauan bakteri di dalam usus hewan menjadi langkah penting untuk mengetahui sejauh mana resistensi antibiotik telah berkembang di tingkat peternakan. 

Penelitian yang dilakukan di Desa Ngrayung, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban memberikan gambaran mengenai kondisi tersebut. Dari 150 sampel swab rektal domba, ditemukan 6 isolat Citrobacter spp. yang terkonfirmasi secara biokimia atau sekitar 4% dari seluruh sampel. Meskipun jumlahnya relatif kecil, hasil ini menunjukkan bahwa domba yang tampak sehat tetap dapat membawa bakteri yang berpotensi menjadi sumber penyebaran resistensi antibiotik. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa identifikasi bakteri tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan bentuk koloni pada media kultur. Dari 40 koloni yang awalnya diduga sebagai Citrobacter, hanya enam yang benar-benar terkonfirmasi setelah dilakukan serangkaian uji biokimia. Temuan ini menegaskan pentingnya pemeriksaan laboratorium yang lengkap agar identifikasi bakteri menjadi lebih akurat. 

Hasil yang paling menarik sekaligus mengkhawatirkan berasal dari pengujian sensitivitas antibiotik. Seluruh isolat Citrobacter menunjukkan resistensi terhadap eritromisin. Selain itu, 66,7% isolat resisten terhadap ampisilin, sedangkan sebagian isolat juga telah menunjukkan resistensi terhadap sefoxitin, tetrasiklin, dan aztreonam. Bahkan, dua isolat telah dikategorikan sebagai multidrug-resistant (MDR) karena resisten terhadap tiga golongan antibiotik atau lebih. Salah satu isolat bahkan kebal terhadap seluruh antibiotik yang diuji. 

Mengapa hal ini perlu menjadi perhatian? Citrobacter memiliki berbagai mekanisme alami maupun yang diperoleh melalui transfer gen untuk bertahan terhadap antibiotik. Bakteri ini mampu menghasilkan enzim β-laktamase yang dapat merusak antibiotik golongan β-laktam, memanfaatkan sistem efflux pump untuk mengeluarkan antibiotik dari dalam sel, hingga memperoleh gen resistensi melalui plasmid dari bakteri lain. Kemampuan tersebut menjadikan Citrobacter sebagai salah satu reservoir gen resistensi yang berpotensi menyebarkan AMR ke bakteri patogen lainnya. 

Keberadaan Citrobacter yang resisten pada domba sehat juga menunjukkan bahwa penyebaran AMR tidak selalu disertai gejala penyakit. Hewan dapat tetap terlihat sehat tetapi membawa bakteri resisten di saluran pencernaannya. Melalui feses, bakteri tersebut dapat mencemari kandang, tanah, air, maupun peralatan peternakan. Dari lingkungan inilah bakteri resisten berpotensi berpindah ke hewan lain maupun manusia. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa pendekatan One Health semakin ditekankan dalam pengendalian resistensi antibiotik. Temuan penelitian ini mengingatkan bahwa pengendalian resistensi antibiotik tidak cukup dilakukan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan. Upaya tersebut juga harus dimulai dari sektor peternakan melalui penggunaan antibiotik secara bijaksana, peningkatan biosekuriti kandang, pemeriksaan bakteri secara berkala, serta pengawasan resistensi antimikroba yang berkelanjutan.

Melindungi efektivitas antibiotik bukan hanya untuk kesehatan hewan, tetapi juga untuk menjaga kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan. Dengan memperkuat kolaborasi antara dokter hewan, peternak, peneliti, dan pembuat kebijakan, penyebaran resistensi antibiotik dapat ditekan sehingga keamanan pangan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga. 

Keywords: Citrobacter spp., Livestock, Antimicrobial resistance, Farm Biosecurity, Food-Producing Animals.

Penulis: Dian Ayu Permatasari

199307212019032022

089660135395

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di:

https://advetresearch.com/index.php/AVR/article/view/2561

Permatasari, D. A., Mahandaru, M. S. R. ., Khairullah, A. R. ., Hastutiek, P., Effendi, M. H., Tyasningsih, W. ., Sukmanadi, M., Pratama, B. P., Raharjo, H. M. ., Budiastuti, B., Yanestria, S. M., Zulfa, L. L., Utomo, D. L. H. ., & Agumah, N. B. . (2026). Antibiotic resistance profile of Citrobacter spp. isolated from rectal swabs of sheep in Ngrayung Village, Plumpang District, Tuban Regency. Journal of Advanced Veterinary Research, 16(4), 491-495. Retrieved from https://advetresearch.com/index.php/AVR/article/view/256.