Universitas Airlangga Official Website

Peta Gizi Anak Indonesia: Mengapa Solusi Stunting Papua Tidak Bisa Disamakan dengan Jawa?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada 2045. Namun, di balik cita-cita Indonesia Emas, masih ada persoalan besar yang mengintai: stunting, wasting, dan underweight pada anak balita. Data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 21,5%, wasting 8,5%, dan underweight 15,9%, angka yang menunjukkan bahwa masalah gizi anak belum selesai.

Masalah gizi anak sering dipandang sebagai persoalan yang sama di seluruh wilayah Indonesia. Padahal, kondisi Indonesia sangat beragam. Faktor yang menyebabkan anak mengalami malnutrisi di Jawa belum tentu sama dengan faktor yang bekerja di Papua atau Maluku. Karena itu, kebijakan yang seragam berisiko kurang tepat sasaran.

Sebuah penelitian berjudul “Spatial Modeling of Child Malnutrition in Indonesia Using Geographically Weighted Multivariate Regression” mencoba melihat persoalan ini melalui pendekatan statistika spasial. Penelitian menggunakan data 38 provinsi di Indonesia dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang biasanya hanya meneliti stunting, penelitian ini menganalisis tiga indikator sekaligus: stunting, wasting, dan underweight.

Stunting menggambarkan kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang. Wasting menunjukkan kondisi kekurangan gizi akut yang terjadi dalam waktu relatif singkat. Sementara underweight merupakan gabungan dari keduanya. Ketiga indikator ini saling berkaitan dan memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Penelitian memanfaatkan metode Geographically Weighted Multivariate Regression (GWMR). Sederhananya, metode ini memungkinkan setiap wilayah memiliki karakteristik dan pengaruh faktor yang berbeda. Model ini tidak memaksakan bahwa seluruh provinsi Indonesia memiliki pola yang sama.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor bersifat universal atau berpengaruh hampir di seluruh wilayah Indonesia. Cakupan imunisasi dasar lengkap menjadi salah satu faktor terpenting. Semakin tinggi cakupan imunisasi, semakin rendah risiko masalah gizi anak. Pengetahuan ibu tentang pencegahan stunting juga memiliki pengaruh besar. Selain itu, kondisi ekonomi keluarga terbukti konsisten memengaruhi status gizi anak.

Namun, temuan menarik muncul ketika penelitian melihat pola berdasarkan wilayah. Di Indonesia bagian barat seperti Sumatra dan Jawa, faktor perilaku serta layanan kesehatan masyarakat lebih dominan. Kepemilikan buku Kesehatan Ibu dan Anak, akses sanitasi yang baik, serta praktik pemberian makanan pendamping ASI menjadi faktor penting.

Di Pulau Jawa, sanitasi dan penyakit seperti diare menjadi perhatian khusus. Hal ini dapat dipahami karena kepadatan penduduk tinggi membuat faktor lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan anak.

Sementara itu, Indonesia bagian timur menunjukkan pola berbeda. Papua dan Maluku menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Faktor kelahiran prematur, rendahnya cakupan imunisasi, keterbatasan ekonomi, serta kurangnya pengetahuan tentang pencegahan stunting lebih dominan dibandingkan faktor perilaku semata.

Kalimantan dan Sulawesi memiliki kombinasi unik. Pada wilayah ini, pola pemberian makan anak dan pengetahuan ibu menjadi faktor yang lebih berpengaruh. Artinya, intervensi berupa edukasi gizi dan perbaikan praktik pemberian makanan kemungkinan memberikan dampak lebih besar dibanding pendekatan lain.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa model spasial GWMR jauh lebih baik dibanding model statistika biasa. Nilai akurasi model meningkat secara signifikan dan mampu menjelaskan variasi kondisi gizi anak lebih baik di berbagai daerah. Temuan tersebut menegaskan bahwa pendekatan berbasis wilayah mampu menggambarkan realitas Indonesia yang sangat beragam.

Masalah gizi anak bukan sekadar persoalan makanan, tetapi gabungan faktor kesehatan, ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan kondisi sosial yang berbeda di setiap daerah. Karena itu, kebijakan nasional dengan pola seragam berpotensi kurang efektif. Upaya penanganan stunting dan malnutrisi perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Jika Indonesia ingin membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045, maka peta masalah setiap daerah harus dibaca lebih teliti agar solusi yang diberikan benar-benar tepat sasaran.

Ditulis oleh: Toha Saifudin

Artikel jurnal Scopus yang menjadi dasar opini:

T. Susanto, T. Saifudin, and N. Chamidah, “SPATIAL MODELING OF CHILD MALNUTRITION IN INDONESIA USING GEOGRAPHICALLY WEIGHTED MULTIVARIATE REGRESSION (GWMR)”, BAREKENG: J. Math. & App., vol. 20, no. 3, pp. 1837-1854, Apr. 2026.

DOI: https://doi.org/10.30598/barekengvol20iss3pp1837-1854