UNAIR NEWS – Pembelajaran di bidang kesehatan tidak hanya berlangsung melalui teori di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman klinis, interaksi lintas budaya, dan keterlibatan langsung bersama masyarakat. Hal tersebut dirasakan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) yang mengikuti program student mobility di Management and Science University (MSU), Malaysia, pada 29 Juni–16 Agustus 2026 secara hibrid.
Program yang diselenggarakan bersama International Medical School (IMS), MSU, ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengenal lebih mengenai sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan di Malaysia sekaligus memperluas wawasan akademik melalui berbagai kegiatan pembelajaran dan praktik.
Mengenal Lingkungan Akademik dan Fasilitas Kesehatan MSU
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi induksi bersama manajemen International Medical School, CUP5 Coordinator, dan Elective Coordinator MSU. Mahasiswa kemudian mengikuti campus tour yang mencakup berbagai fasilitas pembelajaran, seperti Dissection Hall, perpustakaan, Anatomy Museum, Skills Lab, Optometry Lab, hingga fasilitas rekreasi kampus.

(Foto: Istimewa)
Eksplorasi akademik dilanjutkan dengan kunjungan ke MSU Medical Centre. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pemaparan mengenai sistem pelayanan kesehatan di Malaysia serta berkesempatan melihat secara langsung lingkungan rumah sakit melalui hospital tour. Pengalaman ini memberikan gambaran mengenai penerapan ilmu kesehatan dalam lingkungan pelayanan klinis.
Clinical Observation hingga MINI-OSCE
Pengalaman klinis menjadi salah satu bagian utama dalam program student mobility. Mahasiswa melakukan industry visitke Klinik Kesihatan (KK) Bandar Botanik atau KK Seksyen 19 untuk mengikuti clinical observation dalam layanan family medicine.
Selain mengamati pelayanan kesehatan primer, mahasiswa juga mengikuti sesi MINI-OSCE di Clinical Skills Lab MSU. Berbagai bidang klinis diperkenalkan, mulai dari Obstetrics and Gynaecology (O&G), Paediatrics, Ophthalmology, Surgery, Emergency Medicine, hingga Anaesthesia. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengasah kemampuan klinis sekaligus mengenal metode pembelajaran keterampilan medis yang diterapkan di MSU.
Pembelajaran juga dilengkapi dengan kelas bertajuk A Day in the Life of an MSU Medical Student. Mahasiswa mengikuti practical Microbiology serta praktik respiratory examination. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat membandingkan pengalaman belajar dan metode pendidikan kesehatan antara Indonesia dan Malaysia.
Belajar Bersama Masyarakat dan Bertukar Budaya
Tidak berhenti pada kegiatan akademik, program ini juga mengajak mahasiswa terlibat dalam Health Intervention Programme (HIP) di PPR Subang. Sebelum pelaksanaan, mahasiswa mendapatkan sesi persiapan dan pengarahan mengenai program intervensi kesehatan yang akan dilakukan kepada masyarakat.
Rangkaian program ditutup dengan sesi refleksi mahasiswa, presentasi mengenai perbedaan Indonesia dan Malaysia, serta pemberian sertifikat. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk merefleksikan pengalaman sekaligus memperkuat pemahaman mengenai keberagaman sistem pendidikan, pelayanan kesehatan, dan budaya kedua negara.
Melalui program student mobility ini, mahasiswa FK UNAIR tidak hanya memperoleh pengalaman akademik dan klinis di lingkungan internasional, tetapi juga belajar beradaptasi, berkomunikasi, dan berkolaborasi dalam lingkungan multikultural. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk membentuk tenaga kesehatan yang adaptif, kompeten, dan memiliki wawasan global. Keikutsertaan mahasiswa FK ini juga turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ketiga, Good Helath and Wellbeing.





