UNAIR NEWS – Keterbatasan ekonomi tidak memadamkan keinginan untuk bermimpi tinggi bagi Nadia S Latuamury, alumni Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR). Tumbuh di desa terpencil pesisir Maluku, ia berhasil menjadi penerima Beasiswa S2 LPDP dan siap memperdalam bidang Regenerative Medicine di Eropa.
Nadhia tumbuh dalam keterbatasan ekonomi keluarga di desa pesisir maluku. Namun hal tersebut tidak membuatnya berkecil hati dalam memperjuangkan mimpinya. Usahanya berbuah manis sejak pendidikan jenjang S1 hingga profesi di FKG UNAIR ia tempuh melalui Beasiswa Bidikmisi dan lulus dengan predikat cumlaude.
“Saya hanya diberi satu tiket dalam hidup, yaitu tiket pendidikan. Bukan tiket kelas utama, tapi satu-satunya yang saya genggam erat seperti nyawa kedua. Tiket ini membawa saya menjelajahi ruang-ruang yang dulu hanya bisa saya bayangkan,” jelasnya.

Berangkat dari Pengalaman di Daerah Terpencil
Alasan ia ingin melanjutkan studi Regenerative Medicine berawal dari pengalamannya bertugas sebagai dokter gigi di daerah 3T, yakni Puskesmas Perawatan Tehoru, Maluku. Ia melihat tingginya ketergantungan fasilitas kesehatan pada material impor dan minimnya layanan medis di wilayah kepulauan.
“Maluku punya kekayaan biomineral laut yang besar. Saya ingin belajar bagaimana sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi biomaterial yang aman untuk rekonstruksi jaringan. Saya ingin membawa ilmu dan jejaring tersebut kembali untuk Indonesia Timur,” ujarnya.
Perjalanan meraih beasiswa LPDP tidak selalu berjalan mulus. Nadhia berjuang ditengah keterbatasan fasilitas daerah terpencil dan pernah mengalami kegagalan pada tahap substansi sebelumnya. Namun ia selalu memilih bangkit dan mempersiapkan diri, hingga akhirnya berhasil menjadi awardee LPDP.
“Saya belajar untuk menjadi gelas kosong, artinya berani untuk mengakui belum tahu, menerima kritik tanpa defensif, serta bersedia untuk learn, unlearn, dan relearn. Saya juga belajar dari kesalahan, melepas cara belajar yang tidak efektif dan mencoba pendekatan baru yang lebih sesuai,” ungkapnya.
Nadhia mengungkapkan bahwa keberhasilannya hari ini tidak hanya hasil dari usahanya, melainkan berkat kepercayaan dan dukungan keluarga serta orang terdekatnya dalam memberinya ruang untuk bermimpi, mengambil risiko, dan memperjuangkannya.
LPDP sebagai Langkah Berikutnya
Saat ini ia ditetapkan sebagai penerima Beasiswa LPDP dan menjalani proses pendaftaran ke universitas tujuan di Eropa. Baginya, kesempatan tersebut bukan hanya pencapaian akademik, namun langkah untuk membangun kapasitas diri untuk dibawa kembali ke Indonesia.
“Saya belum sampai pada tujuan akhir. Saya baru saja mendapatkan kesempatan dalam memulai tahap berikutnya yakni belajar di lingkungan untuk meningkatkan kapasitas dan jejaring, suatu hari nanti saya akan pulang untuk berkontribusi bagi Maluku dan Indonesia Timur,” ucapnya.
Di Akhir, Nadhia memberi pesan bagi mahasiswa yang sedang berjuang di tengah keterbatasan. “Not everyone is born with a silver spoon. Jangan biarkan kondisi finansial hari ini menentukan seberapa besar Anda berani bermimpi. Bermimpilah dulu, lalu cari jalannya. Anak dari daerah 3T pun berhak belajar di tempat terbaik dunia,” pungkasnya.
Penulis : Maulya Afifah Zahra
Editor : Ragil Kukuh Imanto





