UNAIR NEWS – Gelaran Airlangga Stock Festival 2026 buatan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) FEB Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menyedot perhatian mahasiswa. Dihelat di Auditorium Candradimuka Kampus MERR-C pada Jumat (28/8/2026), acara yang memadukan Capital Market Competition dan seminar National InvesTalk 2026 ini fokus membedah kunci navigasi investasi cerdas sejak bangku kuliah.
Terapkan Formula MSG
Founder Omaha Investments Edgar C Dihardja menekankan bahwa setiap orang memiliki garis awal finansial yang berbeda. Ia menyoroti fenomena anak muda yang kerap terjebak tren investasi berisiko tinggi demi hasil instan. Padahal, fokus utama di usia 20-an seharusnya dialokasikan untuk meningkatkan human capital atau nilai diri.
Dalam mencapai stabilitas finansial, setiap individu ibarat berlari maraton dengan posisi start yang berbeda. “Kita tidak boleh membandingkan kondisi finansial dengan orang lain karena situasinya pasti berbeda. Hal terpenting adalah membandingkan diri kita dengan hari kemarin, apakah kita sudah membuat kemajuan?” ungkapnya.

Lebih lanjut, Edgar turut memperkenalkan formula pengelolaan uang MSG (Making, Saving, Growing). “Gunakan waktu saat kuliah untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Investasi terbaik saat ini adalah leher ke atas guna meningkatkan kemampuan untuk mendapatkan uang nantinya,” tegas Edgar.
Analogi PDKT Saham
Menyambung pentingnya fondasi pemikiran tersebut, Certified Financial Planner sekaligus Founder Mindsetduit, Vicktor I Pasally, bersama Financial Influencer Doddy Prayogo, menyoroti fenomena Gen Z yang rentan FOMO akibat jebakan algoritma media sosial.
“Konten pamer harta dan cara cepat kaya di usia belia sangat mudah viral. Ini tantangan agar kalian tidak terjebak investasi berisiko tinggi karena sekadar ikut-ikutan,” pesannya.
Untuk mulai memilih saham, ia membagikan perumpamaan menarik tentang analisis fundamental dan teknikal layaknya proses pendekatan (PDKT) percintaan.
“Analisis teknikal atau pergerakan harga itu ibarat kata-kata manis sesaat, sedangkan fundamental adalah isi hatinya. Selama fundamental perusahaannya bagus, saham tersebut tetap layak dipertahankan,” jelasnya.
Di akhir, ia mengingatkan pentingnya menggunakan uang dingin atau dana yang benar-benar tak terpakai untuk berinvestasi. Ia juga mengibaratkan alokasi keuangan layaknya memakan mangga. “Kita nikmati daging buahnya untuk masa sekarang, tapi bijinya harus kita tanam kembali untuk dinikmati di masa depan,” pungkasnya.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.
Editor: Yulia Rohmawati





