UNAIR NEWS – Menghadapi tantangan kemandirian finansial PTNBH, sinergi antarkampus menjadi kunci utama dalam memperkuat efisiensi anggaran. Semangat inilah yang melandasi kunjungan studi banding delegasi Universitas Brawijaya (UB) ke Universitas Airlangga (UNAIR) yang berlangsung di Gedung Kahuripan Kampus MERR-C pada Kamis (3/9/2026) guna mendiskusikan tata kelola anggaran berbasis kinerja.
Fondasi Strategi PTNBH
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya UNAIR Prof Dr Ardianto SE MSi Ak CMA CA menekankan pentingnya keselarasan antara perencanaan strategis dan pengalokasian anggaran di tingkat Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).
“Anggaran tidak bisa berdiri sendiri, melainkan turunan dari misi dan strategi yang di-cascading menjadi program kerja. Hal ini penting untuk menghindari non-delimited activity, mempercepat target, serta mengukur kinerja,” terangnya.
Lebih lanjut, Ia juga menyambut baik ruang kolaborasi teknis antarlembaga ini. “Melalui keterbukaan tata kelola teknis ini, kita dapat memetik manfaat, saling memberi masukan konstruktif, serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Universitas Brawijaya dan UNAIR,” tambahnya.

Penerapan SBKU dan Program Impactful
Direktur Keuangan UNAIR, Prof Dr Hamidah SE MSi Ak memaparkan pendekatan teknis dalam mengelola anggaran berbasis kinerja di tingkat unit kerja dan fakultas. “Kami membagi porsi anggaran menjadi kebutuhan operasional rutin dan anggaran bertarget untuk menopang Indikator Kinerja Utama (IKU) serta pemeringkatan internasional. Dalam penerapannya, kami menetapkan Standar Biaya Keluaran Umum (SBKU) sebagai batas atas pagu pembiayaan, bukan batas bawah, guna mendorong efisiensi,” jelasnya.
Ia mengimbau seluruh unit kerja untuk menyusun program kerja yang berdampak ganda. “Satu program idealnya tidak hanya memenuhi satu kategori indikator saja. Pimpinan fakultas didorong merancang program multi-indikator, seperti program pertukaran mahasiswa yang sekaligus menghadirkan dosen tamu dan riset bersama, agar alokasi dana yang terbatas dapat memberikan capaian kinerja yang maksimal,” tegas Prof Hamidah.
Diskusi interaktif tersebut kemudian bermuara pada penguatan sinergi antara kedua PTNBH. Tim BPP UB membagikan strategi penguncian 20 hingga 22 persen anggaran bertarget untuk mengejar IKU, sementara Pusat Pengelolaan Dana Sosial (Puspas) UNAIR memaparkan transparansi pengelolaan dana abadi dan filantropi yang dicatat terpisah dari neraca operasional kampus.
Pertukaran skema teknis hingga sistem digitalisasi pelaporan keuangan ini diharapkan mampu menyempurnakan dokumen penganggaran berbasis kinerja kedua universitas menuju tahun 2027.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.
Editor: Khefti Al Mawalia





