UNAIR NEWS – Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk mengukir prestasi di kampus. Prinsip inilah yang dibuktikan oleh Kenzo, wisudawan Program Studi S1 Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Airlangga (UNAIR). Tidak hanya berhasil merengkuh gelar sarjana hukum, Kenzo juga resmi menyandang predikat Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) UNAIR Kategori Disabilitas.
Perjalanan akademik Kenzo di FH UNAIR diwarnai dengan kegigihan luar biasa dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas. Khususnya dalam akses pendidikan inklusif dan regulasi hukum. Gagasan kreatifnya mengenai revisi peraturan pemerintah tentang akomodasi yang layak bagi mahasiswa disabilitas mengantarkannya meraih posisi Mawapres UNAIR.
Inklusivitas Akses Belajar di Fakultas Hukum
Selama menempuh studi di FH UNAIR, Kenzo merasakan langsung dukungan penuh dari kampus. Lingkungan akademisi, dosen, hingga teman-teman hadir memberikan support sistem yang ramah dan inklusif. Syarat utama terpenuhinya hak belajar mahasiswa disabilitas diwujudkan melalui kemudahan aksesibilitas materi perkuliahan dan mekanisme ujian.
“Dukungan tentu ada, dari dosen dan teman-teman yang memberikan support dalam perkuliahan. Salah satu contohnya pemberian materi dalam bentuk softcopy. Ketika ujian, aku diberi kesempatan mengerjakan dalam bentuk softcopy juga. Soal-soal yang diberikan sama seperti teman-teman lain, yang membedakan hanya bentuk penyajiannya softcopy yang dapat dibaca dengan aplikasi screenreader,” ungkap Kenzo menjelaskan aksesibilitas yang ia terima.
Dobrak Stigma dan Dorong Kesetaraan Kesempatan
Sebagai Mawapres, Kenzo memanfaatkan keilmuannya untuk menggaungkan advokasi kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra. Menurutnya, penyandang disabilitas memiliki potensi dan kemampuan yang sama besar. Sehingga yang masyarakat dan negara butuhkan saat ini adalah pemberian kesempatan yang setara.
Ia menyoroti masih kuatnya stigma negatif yang menganggap penyandang disabilitas sebagai beban atau pihak yang hanya patut dikasihani.
“Seringkali ada stigma penyandang disabilitas patut dikasihani atau dianggap beban. Padahal penyandang disabilitas itu bagian dari keberagaman (diversity) dan bagian dari masyarakat yang punya hak setara serta kesempatan berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan,” tegasnya.
Berjuang Lewat jalur Akademisi dan Penelitian
Memiliki latar belakang ilmu hukum membuat Kenzo mantap menatap masa depan. Ia berkomitmen mendedikasikan ilmu dan kariernya untuk terus mengawal hak-hak kelompok disabilitas di Indonesia.
“Rencana ke jepan, aku ingin jadi peneliti, dosen, ataupun profesi lain yang bisa mendukung dalam memperjuangkan hak para penyandang disabilitas, yang saat ini sedang aku perjuangkan khususnya tunanetra,” pungkasnya menutup sesi wawancara.
Langkah Kenzo membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak mengikis semangat untuk berkarya. Lewat gelar sarjana hukum dan gelar Mawapres yang ia sandang, ia siap melangkah lebih jauh untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan inklusif.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Yulia Rohmawati
