Universitas Airlangga Official Website

HOMI UNAIR Satukan Sejarah dan Kesehatan dalam Kajian Lintas Disiplin

Akademisi, pembicara, dan peserta HOMI berfoto bersama dalam rangkaian konferensi internasional History of Medicine in Indonesia (HOMI) di Universitas Airlangga. (Foto: Istimewa)
Akademisi, pembicara, dan peserta HOMI berfoto bersama dalam rangkaian konferensi internasional History of Medicine in Indonesia (HOMI) di Universitas Airlangga. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Departemen Ilmu Sejarah (FIB) bersama dengan Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) secara resmi menyelenggarakan konferensi internasional History of Medicine in Indonesia (HOMI) sebagai ruang untuk mempertemukan kajian sejarah kesehatan dengan perspektif kedokteran dan humaniora. Konferensi tersebut membahas perkembangan pengetahuan kesehatan sekaligus perubahan praktik dan kehidupan masyarakat dari perspektif sejarah. Rangkaian hari pertama kegiatan HOMI berlangsung pada Rabu (23/9/2026) di Fakultas Ilmu Budaya, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. 

Ketua Pelaksana HOMI, Dr Gayung Kasuma S S Mhum, menjelaskan bahwa konferensi tersebut hadir untuk membangun ruang akademik yang secara khusus membahas sejarah kesehatan di Indonesia. Menurutnya, kajian kesehatan tidak hanya menjadi bagian dari ilmu kedokteran, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat dan perkembangan pengetahuan dari masa ke masa.

Memahami Kesehatan melalui Perspektif Sejarah

Perspektif sejarah menjadi salah satu cara untuk melihat bagaimana pengetahuan dan praktik kesehatan berkembang. Dekan Fakultas Kedokteran Prof Dr Eighty Mardiyan Kurniawati, dr Sp OG Subsp Urogin RE menyampaikan hal tersebut dalam pembukaan rangkaian HOMI melalui agenda gala dinner pada hari pertama

“Dengan melihat masa lalu, kita dapat lebih memahami bagaimana pengetahuan medis berkembang. Selain itu, bagaimana sistem layanan kesehatan bekerja, bagaimana masyarakat merespons epidemi dan krisis kesehatan, serta bagaimana hubungan antara dokter, pasien, dan komunitas berubah dari waktu ke waktu,” jelasnya.

Sementara itu, Dr Gayung menjelaskan bahwa HOMI mengangkat kajian yang tidak terbatas pada penyakit dan pengobatan. Sejarah kesehatan juga dapat membahas pelayanan kesehatan, perkembangan teknologi medis, hingga pengetahuan dan praktik pengobatan yang berkembang di masyarakat.

“Ilmu medis itu bicara tentang penyakit, tetapi dalam konteks ini ada hubungannya dengan ilmu sejarah. Jadi, bagaimana sejarah penyakit ini berkembang,” jelas Gayung. Menurutnya, perspektif humaniora turut memberikan ruang untuk melihat kesehatan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Pengetahuan mengenai pengobatan tradisional, resep-resep kuno, maupun perkembangan teknologi kesehatan dapat menjadi bagian dari kajian sejarah kesehatan. 

Membangun Jejaring Sejarah Kesehatan di Indonesia

HOMI tidak hanya menjadi ruang pertemuan akademisi, tetapi juga menjadi langkah awal untuk memperluas jejaring kajian sejarah kesehatan di Indonesia. Dr Gayung menjelaskan bahwa penyelenggaraan perdana ini dapat mendorong perguruan tinggi lain untuk mengembangkan kajian serupa. 

Menurutnya, kajian sejarah kesehatan memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui penelitian dan pertukaran pengetahuan antarlembaga. Karena itu, harapannya, keberlanjutan HOMI tidak hanya bergantung pada satu perguruan tinggi, tetapi dapat berlanjut oleh institusi lain di berbagai wilayah Indonesia. “Kalau ini bicara pertama, artinya nanti ada yang melanjutkan. Tidak hanya perguruan tinggi saja yang di sini yang mungkin memulai. Namin, nanti akan ada semacam perguruan tinggi lain juga yang akan melanjutkan kegiatan ini,” ujarnya. 

Lebih lanjut, pengembangan forum sejarah kesehatan juga dapat memperluas keterlibatan perguruan tinggi dari berbagai wilayah, mulai dari Indonesia bagian barat hingga timur. Ia berharap penyelenggaraan berikutnya dapat menjadi ruang yang mempertemukan lebih banyak peneliti untuk mengkaji perkembangan kesehatan dari perspektif sejarah dan lintas keilmuan. 

Melalui langkah tersebut, HOMI diharapkan dapat menjadi pijakan bagi terbentuknya jejaring kajian sejarah kesehatan yang lebih luas di Indonesia. Keberlanjutan forum ini juga membuka peluang bagi penelitian mengenai pengalaman kesehatan Indonesia untuk terus dikembangkan dan ditempatkan dalam percakapan akademik yang lebih luas. 

Penulis: Katara Joy Kurniawan

Editor: Ragil Kukuh Imanto