Universitas Airlangga Official Website

Tim Ekspedisi Patriot UNAIR Sulap Ikan Rucah Jadi Pakan Ayam Petelur 

Pertemuan dengan UPT Dinas Perikanan dan Kelautan Ibu Eka A. Arlen dan Bapak Sutan sebagai pemilik usaha Bagan Bamodal di Pantai Moian (foto: Tim TEP UNAIR)
Pertemuan dengan UPT Dinas Perikanan dan Kelautan Ibu Eka A. Arlen dan Bapak Sutan sebagai pemilik usaha Bagan Bamodal di Pantai Moian (foto: Tim TEP UNAIR)

UNAIR NEWS – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) memberikan pendampingan kepada peternak lokal mengenai pemanfaatan ikan rucah sebagai sumber protein pakan ayam petelur pada Selasa (8/8/2026). Pendampingan ini berlangsung di Aula Kantor Desa Tinombala Jaya, Kecamatan Ongka Malino, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. 

Ketua TEP UNAIR Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya, Dr drh Emy Koestanti Sabdoningrum MKes, mengungkapkan bahwa timnya telah mengidentifikasi potensi usaha ayam buras petelur di Kecamatan Ongka Malino beserta potensi pemanfaatan ikan rucah yang ada di Kecamatan Taopa, Desa Palapi. Saat ini, perkembangan program tim arahkan pada dasar pendampingan dan persiapan kebutuhan teknis sebelum masuk ke tahap pelaksanaan dan monitoring produktivitas ayam buras petelur. “Salah satu fokusnya adalah pemanfaatan ikan rucah kering sebagai bahan baku tepung ikan yang berpotensi menjadi sumber protein dalam pakan,” ungkapnya. 

Pelaksanaan FGD di Kantor Desa Tinombala Jaya bersama dengan Aparat Kecamatan dan warga Kecamatan Ongka Malino (foto: Tim TEP UNAIR)
Manfaatkan Potensi Lokal untuk Pakan Ayam

Sampai dengan akhir Agustus 2026, tim TEP UNAIR di Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya telah melakukan berbagai identifikasi. Mulai dari kondisi lapangan, pendataan peternak dan kelompok nelayan, koordinasi dengan pemangku kepentingan, serta persiapan kegiatan pelatihan yang berlangsung pada bulan September. Di samping itu, tahap awal penerapan pakan lokal telah berlangsung dengan kegiatan pendampingan. Kegiatab itu berupa memformulasikan ikan rucah kering, bekatul, dan jagung. 

Tim memberikan pemahaman kepada peternak lokal soal potensi perikanan dan bahan baku lokal. Selain itu tim juga mendorong pengelolaan pakan ternak yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan guna mendukung budidaya ayam buras petelur. Tim memilh Ikan rucah sebagai alternatif pakan bagi ayam buras petelur bersamaan dengan pemanfaatan bahan baku yang tersedia di sekitar kawasan, khususnya jagung  dan bekatul. 

“Pendampingan ini memberikan alternatif bagi peternak untuk memanfaatkan bahan baku lokal, seperti jagung, bekatul, dan ikan rucah kering. Sehingga, harapannya dapat mendukung efisiensi pakan dan menjaga produktivitas ayam secara berkelanjutan,” tuturnya. 

Bangun Kemandirian Peternak Berbasis Potensi Lokal 

Ikan rucah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung ikan yang bernilai tinggi. Oleh karenanya, tim berupaya membangun kemandirian kelompok ternak lewat pelatihan integrasi perikanan dan budidaya ayam petelur. Pelatihan ini menghadirkan pengalaman langsung dalam penerapan pakan berbasis potensi lokal. 

“Pendampingan ini menjadi langkah awal untuk meningkatkan kemampuan peternak. Khususnya, dalam mengelola pakan secara lebih mandiri dan efisien serta kemampuan nelayan dalam meningkatkan nilai jual ikan,” ujarnya. 

Namun, dedikasi tim TEP UNAIR tidak berhenti pada titik ini. Ke depan, tim akan melakukan berbagai bentuk tindak lanjut. Hal yang tim lakukan berupa pemantauan respons dan produktivitas ternak, evaluasi penggunaan pakan, serta pendampingan manajemen pemeliharaan dan pengelolaan usaha agar upaya tersebut dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan. 

“Pengembangan pemanfaatan ikan rucah menjadi tepung ikan juga akan terus didorong. Hal tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan sumber protein pakan lokal, meningkatkan nilai tambah hasil perikanan, dan mendukung kemandirian kelompok nelayan secara berkelanjutan,” pungkasnya. 

Penulis: Amelia Farah Putri I.

Editor: Ragil Kukuh Imanto