Universitas Airlangga Official Website

Mengungkap Parasit Darah pada Merpati: Pengalaman Diagnostik Mahasiswa PPDH Gelombang 45

Surabaya, 4 Agustus 2026 — Kegiatan stase Laboratorium Parasitologi Veteriner menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang 45 Tandem 2 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Melalui kegiatan pemeriksaan sampel hewan, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori mengenai parasit, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam melakukan identifikasi dan interpretasi hasil pemeriksaan secara mikroskopis. Salah satu temuan menarik diperoleh dari pemeriksaan sampel merpati yang berasal dari Pasar Tegalsari, Surabaya, pada 4 Agustus 2026. Pemeriksaan yang dilakukan di Laboratorium Parasitologi Veteriner FKH Universitas Airlangga menunjukkan adanya parasit darah yang teridentifikasi sebagai Haemoproteus columbae.

Haemoproteus columbae merupakan protozoa darah yang termasuk dalam kelompok Haemosporida dan diketahui umum menginfeksi burung, terutama famili Columbidae seperti merpati. Parasit ini memiliki kemampuan untuk hidup dan berkembang di dalam sel darah merah inangnya. Keberadaannya dapat diketahui melalui pemeriksaan mikroskopis preparat ulas darah dengan mengamati karakteristik parasit di dalam eritrosit. Pada hasil pemeriksaan, keberadaan parasit dalam eritrosit menjadi salah satu karakteristik penting dalam proses identifikasi. Haemoproteus columbae dapat ditemukan dalam bentuk yang berada di sekitar inti eritrosit dan menyebabkan perubahan posisi inti sel. Pengamatan terhadap bentuk, lokasi, serta karakteristik parasit di dalam eritrosit menjadi dasar bagi mahasiswa untuk membedakannya dari berbagai jenis parasit darah unggas lainnya.

Menariknya, siklus hidup Haemoproteus columbae tidak hanya melibatkan burung sebagai hospes, tetapi juga membutuhkan vektor arthropoda pengisap darah. Pada merpati, penularan diketahui berkaitan dengan lalat hippoboscid, terutama Pseudolynchia canariensis. Parasit berkembang melalui beberapa tahapan di dalam tubuh vektor sebelum ditularkan kembali kepada burung ketika vektor melakukan aktivitas mengisap darah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan parasitologi memiliki peran penting dalam pemantauan kesehatan burung. Infeksi Haemoproteus pada burung dapat bersifat ringan atau bahkan tidak menunjukkan tanda klinis yang jelas. Namun, pada kondisi tertentu, infeksi dapat berkaitan dengan gangguan kondisi tubuh dan perubahan fisiologis, sehingga keberadaan parasit tetap perlu diperhatikan dalam pemeriksaan kesehatan hewan.

Bagi mahasiswa PPDH, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan diagnostik veteriner, khususnya dalam mengenali parasit berdasarkan karakteristik morfologinya. Pengalaman melakukan pemeriksaan sampel yang berasal dari lingkungan nyata juga membantu mahasiswa memahami bahwa parasitologi veteriner tidak hanya berkaitan dengan identifikasi organisme, tetapi juga dengan hubungan antara hospes, parasit, vektor, lingkungan, dan faktor risiko penularannya. Pemeriksaan merpati yang berasal dari pasar juga memberikan perspektif mengenai pentingnya surveilans kesehatan hewan pada lingkungan dengan interaksi dan mobilitas hewan yang tinggi. Pemantauan terhadap parasit pada hewan dapat menjadi bagian dari upaya deteksi dini serta pengendalian penyakit, sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya penerapan prinsip biosekuriti dan kesehatan hewan.

Melalui stase di Laboratorium Parasitologi Veteriner, mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 2 diharapkan tidak hanya mampu mengidentifikasi parasit secara tepat, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menghubungkan hasil pemeriksaan dengan aspek epidemiologi, patogenesis, pengendalian, dan kesehatan hewan secara menyeluruh. Temuan Haemoproteus columbae pada merpati dari Pasar Tegalsari menjadi salah satu pengalaman diagnostik yang memperkaya proses pembelajaran mahasiswa dalam mempersiapkan diri sebagai calon dokter hewan.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kapasitas deteksi dan pemantauan agen penyakit pada hewan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran berbasis praktik dan pengalaman diagnostik secara langsung, serta SDG 15 (Life on Land) melalui peningkatan pemahaman dan pemantauan kesehatan satwa. Upaya tersebut sejalan dengan pendekatan One Health, yang menempatkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.

Penulis: Gianina (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 2)

Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)