Universitas Airlangga Official Website

Tim UNAIR Lolos LIDM Lewat Film Edukasi Literasi Digital Pratibimba

Tim Dolar 18 Ribu, salah satu tim UNAIR lolos LIDM kategori Video Digital Pendidikan 2026 (Foto : Tim Dolar 18 Ribu).
Tim Dolar 18 Ribu, salah satu tim UNAIR lolos LIDM kategori Video Digital Pendidikan 2026 (Foto : Tim Dolar 18 Ribu).

UNAIR NEWS – Media sosial menjadi ruang terdekat terhadap kehidupan generasi muda. Melalui video pendek, tim mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) mengajak pengguna media sosial untuk lebih bijak dalam berkomentar di ruang digital. Karya tersebut berhasil lolos Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 kategori Video Digital Pendidikan (VDP).

Tim yang bernama Dolar 18 Ribu terdiri atas Emanuel Yudhistira (FPK), Marsha Nurrahmadina Muntahir (FISIP), Haqi Nuha Ahnafy (FKH), dan Muhammad Fatih Rabbani (FKH). Mereka menciptakan karya berjudul Pratibimba dengan mengangkat isu citra diri serta tanggung jawab dalam berinteraksi di ruang digital.

Pratibimba, video edukasi singkat karya tim Dolar 18 Ribu (Foto : Tim Dolar 18 Ribu)
Pratibimba: Bijak dalam Menggunakan Sosial Media 

Haqi menjelaskan bahwa Pratibimba bermakna refleksi atau pantulan yang dikemas dalam video pendek berdurasi lima menit. Dalam media sosial terdapat banyak filter untuk beauty maupun komentar, dari situ perlahan muncul kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. 

“Media sosial sangat dekat dengan kehidupan kita. Kami ingin mengangkat bagaimana pemuda bisa menerima diri sendiri. Melalui video ini kami ingin membuka perspektif baru agar masyarakat menghilangkan kebiasaan membandingkan diri dan mulai untuk menerima diri sendiri,” jelasnya.

Melalui karya ini, tim menyampaikan pesan utama yang dibungkus dalam 3J, yakni Jujur, Jeda, dan Jaga. Pesan ini mengajak pengguna media sosial untuk jujur terhadap diri sendiri, menjeda diri sebelum berpikir negatif terhadap orang lain, serta menjaga sikap saat berinteraksi di ruang digital.

Edukasi melalui Cerita 

Marsha mengungkapkan bahwa keunggulan Pratibimba terletak pada penyampaian pesan yang tidak bersifat teoritis. Pesan edukasi disampaikan melalui konflik dan perjalanan karakter sehingga penonton dapat memahami persoalan dari cerita yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Kami tidak membagi karakter secara sederhana sebagai korban maupun pelaku. Perspektif ini penting karena di dunia maya kita bisa menjadi dua peran tersebut, kadang menjadi korban maupun pelaku,” ungkapnya.

Selain video, tim juga mengembangkan kampanye digital melalui Instagram berupa unggahan postingan maupun story. Mereka juga merencanakan kegiatan nonton bersama dan kolaborasi komunitas untuk menjangkau generasi muda lebih banyak.

“Kami ingin membawa video ini keluar dari layar dan menjadikannya pemantik diskusi. Harapannya, masyarakat tidak hanya menonton, tetapi juga merefleksikan bagaimana mereka berperilaku di ruang digital,” pungkasnya.

Penulis : Maulya Afifah Zahra 

Editor : Ragil Kukuh Imanto