Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Faktor-Faktor Penentu Asupan Energi yang Tidak Memadai pada Anak Stunting

404 Views•3 minutes read

Stunting pada anak adalah gangguan pertumbuhan kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak memadai dalam jangka waktu lama dan infeksi berulang, sehingga anak tidak dapat mencapai tinggi badan potensialnya. Asupan energi yang tidak mencukupi merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan pada anak dengan stunting. Stuntingdiidentifikasi dengan membandingkan tinggi/panjang badan seorang anak dengan standar tinggi anak pada populasi yang normal sesuai dengan usia dan jenis kelamin yang sama. Menurut WHO, stunting adalah keadaan panjang/tinggi badan seorang anak pada usia tertentu berada dibawah -2 SD dari median standar pertumbuhan WHO. Proses terjadimya stunting dimulai dengan adanya penurunan berat badan terutama pada usia 2 tahun. Penurunan berat badan yang berlanjut akan menyebabkan panjang badan tidak optimal. Secara umum penyebab stunting diklasifikasikan menjadi penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung adalah asupan nutrisi yang tidak adekuat secara kuantitas, kualitas dan varian makanan, termasuk makanan pendamping ASI (MPASI) pada usia 6 bulan yang tidak adekuat, misalnya kualitas makanan yang buruk, praktik pemberian makan yang salah, dan keamanan pangan. Oleh sebab itu, pada usia 6 bulan WHO merekomendasikan pemberian MPASI untuk melengkapi kekurangan zat gizi. Selain hal tersebut, infeksi berulang serta asuhan kesehatan yang kurang memadai menjadi penyebab stunting. Sebagai penyebab tidak langsung adalah kemiskinan, ketidaksetaraan ekonomi, norma sosial, pendidikan ibu serta status sosial perempuan. Berdasarkan WHO, terdapat delapan elemen faktor rumah tangga dan keluarga yang berpengaruh terhadap kejadian stunting. Faktor utama pada elemen tersebut adalah defisiensi nutrisi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) balita. Nutrisi berperan terhadap pertumbuhan linier anak.

Pada jangka pendek, stunting dapat menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas, perkembangan kognitif dan motorik menjadi tidak optimal, dan biaya kesehatan meningkat. Dampak jangka panjang dari stunting yaitu postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa sehingga anak lebih pendek dibandingkan anak normal, serta risiko obesitas dan penyakit lain meningkat, kesehatan reproduksi menurun, kapasitas belajar dan performa saat masa sekolah menjadi kurang optimal, serta dapat menyebabkan produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak maksimal. Kami melakukan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor penentu yang berhubungan dengan asupan energi yang tidak memadai pada anak dengan stunting serta membandingkan faktor-faktor tersebut antara kelompok tuberkulosis dan non-tuberkulosis. Penelitian ini dengan desain potong lintang (cross-sectional) dilakukan terhadap 80 anak dengan stunting berusia 12–59 bulan di Kabupaten Jombang, Indonesia. Data mengenai karakteristik anak dan ibu dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan diverifikasi dengan Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Status stunting ditentukan menggunakan skor-z tinggi badan menurut umur (HAZ) berdasarkan standar WHO. Asupan energi dinilai menggunakan metode *recall* konsumsi pangan 24 jam sebanyak dua kali (tidak berturut-turut) dan dikategorikan sebagai memadai (≥80% Angka Kecukupan Gizi/AKG) atau tidak memadai (<80% AKG). Didapatkan hasil, sebagian besar anak berusia >24 bulan (68,7%), berjenis kelamin perempuan (58,7%), dan memiliki berat badan lahir normal (72,5%). Sebanyak 57,5% anak memiliki asupan energi yang memadai, sedangkan 42,5% dikategorikan memiliki asupan yang tidak memadai. Faktor penentu yang signifikan terhadap asupan energi meliputi usia, berat badan lahir, anemia pada ibu selama kehamilan, dan riwayat pemeriksaan kehamilan/ANC. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan terkait jenis kelamin dan status tuberkulosis. Kesimpulan: Asupan energi yang tidak memadai pada anak dengan stunting dipengaruhi secara signifikan oleh faktor anak maupun faktor ibu. Penguatan gizi ibu, peningkatan pemanfaatan layanan ANC, dan promosi praktik pemberian makan yang tepat sangat penting untuk mendukung asupan energi dan pertumbuhan anak yang optimal.

Disarikan dari artikel dengan judul: “Determinants of inadequate energy intake among stunted children” yang diterbitkan di Pediomaternal Nursing Journal, 2026; 12(2): 114-19.

Link:  https://e-journal.unair.ac.id/PMNJ/article/view/88394

Penulis:

Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)

Scopus ID 59912681400

Departemen Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top