Foto Dr H Das’ad Latif SSos SAg MSi PhD saat menyampaikan ceramahnya pada Kamis (8/10/2026)/ Foto: Humas UNAIR)

Sambut Dies Natalis, UNAIR Dalami Makna Amal Jariyah Bagi Dosen dan Tendik

63 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Sambut dies natalis ke-72, Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar pengajian bersama Dr H Das’ad Latif SSos SAg MSi PhD. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (8/10/2026) bertempat di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Kampus MERR-C. Rektor beserta jajaran pimpinan, para dosen, dan tenaga kependidikan turut hadir memadati ruangan.

Dalam ceramahnya, Ustadz Das’ad menegaskan bahwa gelar akademik dan jabatan pasti manusia tinggalkan. Ia memaparkan tiga amal yang tetap mengalir setelah seseorang wafat, yakni anak saleh, sedekah jariah, dan ilmu yang bermanfaat.

Ustadz Das’ad menyebut mahasiswa sebagai anak yang kelak tetap mendoakan dosennya setelah wafat. Ia berpesan kepada para dosen untuk tidak berhenti pada kewajiban mengajar akademik saja.

“Kita bukan sekadar mengajarkan mahasiswa, tetapi jauh lebih penting mengajarkan mereka beradab. Riset akademik yang selesai tanpa nilai akhlak tidak akan memberi pahala di akhirat,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa dalam mengajarkan etika dan adab, dosen perlu memberi contoh terlebih dahulu. “Sebagai bentuk pengajaran, kita sebagai dosen juga harus memperlihatkan pada para mahasiswa bagaimana bertingkah laku dan bagaimana adab yang diperlukan, seperti mencontohkan berpakaian sopan hingga komunikasi di media sosial,” paparnya. 

Ia mengajak dosen untuk rajin bersedekah sebagai penolak bala. Ia menegaskan kepemilikan sejati manusia hanya ada tiga. “Dari sabda Nabi, harta kita itu hanya tiga, yaitu makanan yang habis dimakan, pakaian yang lapuk dipakai, dan harta yang kita sedekahkan,” ujarnya.

Ia mendorong dosen untuk bisa membantu mahasiswa cerdas dan berakhlak yang kesulitan membayar pendidikan. Ia meyakini sedekah yang diberikan itulah yang kelak meneruskan amal dosennya. 

“Tidak ada istilahnya kita miskin karena bersedekah. Terlebih ilmu yang didapat dan disebarluaskan mahasiswa dari sedekah dan bantuan pendidikan kita akan menjadi investasi amal kita,” pungkasnya.

Ia menjelaskan bahwa ilmu menjadi bermanfaat ketika mahasiswa mengamalkan apa yang telah dosen ajarkan. “Mengajar dan menyampaikan ilmu adalah sebuah pahala, dan pahala itu akan terus bertambah ketika mahasiswa menularkannya kembali,” jelasnya.

Ilmu bermanfaat tidak hanya melalui kelas saja. Banyak tempat yang mampu membagikannya secara langsung. “Sekarang sudah banyak media sosial, terutama WhatsApp yang selalu dipakai. Lewat hal seperti ini lah kita bisa menyebarkan ilmu. Kalau ada yang mengamalkan, kita juga dapat pahalanya,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa ilmu yang bermanfaat berawal dari niat yang lurus. “Mulai dari kebiasaan kecil dengan berwudu sebelum berangkat dan menjaganya, mengenakan pakaian layaknya seorang pendidik, serta duduk sejenak untuk berdoa memulai hari,” pesannya.

Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top