UNAIR NEWS – Sebanyak 38 spesies mikroalga ditemukan pada sedimen mangrove di Surabaya, Sidoarjo, dan Banyuwangi. Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR, Ayu Lana Nafisyah SPi MSc PhD, memaparkan temuan tersebut dalam International Fisheries & Aquaculture Stream Talks (iFAST) melalui Zoom bersama Faculty of Fisheries and Aquaculture Science, Universiti Malaysia Terengganu (UMT), Selasa (6/10/2026).
Dalam paparannya, Ayu menjelaskan mikroalga merupakan organisme uniseluler fotosintetik berukuran 0,5–30 mikrometer yang berada pada tingkat trofik pertama dalam ekosistem perairan. Melalui fotosintesis, mikroalga mampu menangkap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen.
Sleeping Giant
Ayu menyebut mikroalga sebagai the sleeping giant karena jumlah dan biomassanya sangat besar. Posisi mikroalga sebagai dasar rantai makanan juga membuat organisme tersebut menjadi fondasi kehidupan dalam ekosistem perairan. “Itulah mengapa saya menyebutnya sebagai the sleeping giant, karena jumlahnya sangat besar,” jelas Ayu.
Potensi tersebut membuat mikroalga dapat dimanfaatkan dalam akuakultur dan pengelolaan lingkungan. Ayu menjelaskan mikroalga mengandung protein, asam lemak, vitamin, dan mineral yang dapat menjadi sumber nutrisi bagi kerang, udang, dan ikan budidaya.
“Makhluk kecil ini dapat menjadi sumber pakan berkelanjutan dalam akuakultur,” ujarnya. Mikroalga juga berpotensi digunakan untuk bioremediasi, mengurangi jejak lingkungan, dan menangkap karbon. Lebih dari 30.000 spesies mikroalga telah dipelajari dari perkiraan satu juta spesies yang ada.
Riset UNAIR Temukan Potensi Karbon
Penelitian tim UNAIR mengamati sedimen mangrove di Surabaya, Sidoarjo, dan Banyuwangi. Ketiga wilayah tersebut mewakili karakter lingkungan berbeda, mulai dari kawasan dengan aktivitas penduduk dan industri tinggi hingga wilayah yang relatif lebih sedikit terganggu. Penelitian ini juga melihat keberadaan mikroalga di sedimen sebagai bagian dari sumber karbon ekosistem mangrove.

Hasil penelitian FPK UNAIR menemukan 38 spesies mikroalga dalam sedimen. Kepadatannya mencapai sekitar 17.000 sel/cm³ pada kedalaman 1 sentimeter, jauh lebih tinggi daripada di perairan pesisir yang umumnya sekitar 700 sel/cm³. Pleurosigma sp. dan Coscinodiscus sp. juga ditemukan sebagai spesies dominan yang berpotensi menjadi pakan alami bagi udang.
Pada kedalaman 1 sentimeter, mikroalga sedimen tercatat menyumbang rata-rata 0,76 ton karbon per hektare. Temuan tersebut memperlihatkan besarnya potensi mikroalga dalam penyimpanan karbon pada sedimen mangrove.
Waspadai Harmful Algal Blooms
Di balik manfaatnya, Ayu mengingatkan adanya kelompok mikroalga yang dapat memberikan dampak negatif. Beberapa mikroalga yang mengandung toksin, seperti jenis sianobakteri tertentu, dapat berkembang pesat ketika kondisi suhu dan nutrien mendukung.
“Dalam komunitas mikroalga terdapat good boys dan bad boys. Kelompok bad boys merupakan mikroalga yang mengandung toksin,” ungkap Ayu.
Pertumbuhan berlebih tersebut dapat memicu Harmful Algal Blooms (HABs), yang menyebabkan perubahan warna air menjadi kehijauan, kekuningan, atau kemerahan. “Populasi mikroalga beracun juga dapat menyebabkan kematian massal ikan meskipun perubahan warna air tidak selalu terlihat. Kita harus memperhatikan potensi biomassa yang besar sekaligus dinamika ekologinya,” pungkas Ayu.
Penulis: Abraham Chrisanta Putra
Editor: Yulia Rohmawati
