Ancaman kekebalan atau resistensi bakteri terhadap obat antibiotik makin mengkhawatirkan masyarakat dunia. Bakteri berbahaya seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli kerap menjadi pemicu berbagai infeksi berat, mulai dari diare kronis hingga infeksi luka. Mengembangkan obat antibiotik baru membutuhkan waktu lama dan biaya mahal. Menjawab tantangan ini, tim peneliti lintas instansi yang dipimpin Universitas Airlangga menghadirkan inovasi terapi pembasmi bakteri yang ramah lingkungan, efisien, dan memanfaatkan kekayaan alam lokal: kombinasi ekstrak daun kelor dan sinar laser.
Inovasi teknologi ini memanfaatkan metode Photodynamic Antimicrobial Therapy (aPDT). Terapi ini menggabungkan paparan cahaya laser biru berpanjang gelombang 405 nanometer dengan agen pemeka cahaya (photosensitizing agent) yang dibuat melalui ramuan nanoteknologi hijau (green synthesis).
Penelitian ini memanfaatkan ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) untuk mereduksi dan menstabilkan perak nitrat menjadi nanopartikel perak (AgNPs-MO). Senyawa aktif alami pada daun kelor seperti flavonoid dan tanin terbukti ampuh membantu pembentukan nanopartikel berukuran sangat kecil (hingga rentang 7,26 nanometer). Ukuran mikroskopis ini memungkinkan nanopartikel menempel presisi dan menembus dinding sel bakteri.
Ketika nanopartikel berbasis kelor ini disemprotkan ke area bakteri dan disinari dengan laser biru selama beberapa detik, terjadi reaktifitas kimia. Laser biru mengaktifkan nanopartikel untuk memicu munculnya Spesies Oksigen Reaktif (ROS). ROS inilah yang bekerja menyerang dan merusak dinding sel bakteri secara frontal hingga pecah (lisis).
Hasil pengujian laboratorium menunjukkan performa yang sangat impresif. Hanya dalam waktu penyinaran laser selama 180 detik (3 menit), kombinasi terapi ini mampu membasmi bakteri Staphylococcus aureus hingga 97,48%. Sementara pada bakteri Escherichia coli, tingkat kematian bakteri mencapai 79,87%. Keunggulan lain dari terapi fotodinamik ini adalah sifatnya yang sangat terlokalisasi, sehingga efektif mematikan bakteri jahat tanpa merusak jaringan sel tubuh yang sehat di sekitarnya.
Kehadiran riset ini membuktikan bahwa tanaman lokal yang melimpah seperti kelor dapat diolah menjadi teknologi medis modern berdaya guna tinggi. Melalui integrasi nanoteknologi hijau dan laser, metode ini membawa harapan baru sebagai alternatif terapi infeksi medis yang aman, cepat, bebas risiko kekebalan obat, serta ramah lingkungan.
Penulis : Suryani Dyah Astuti
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
