Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Zonasi Cahaya pada Komunitas Mikroalga di Gua

27 Views•3 minutes read

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam International Journal of Speleology mengungkap bahwa ketersediaan cahaya menjadi faktor utama yang membentuk struktur dan zonasi komunitas mikroalga aerofitik di Gua Tempurung yang dipimpin oleh Wan Maznah Wan Omar dan tim ini menjadi salah satu penilaian kuantitatif pertama terhadap organisasi komunitas mikroalga aerofitik di gua batu kapur tropis, mengingat topik ini masih jarang diteliti secara mendalam.

Gua merupakan tempat hidup mikroalga yang kehidupannya ditentukan oleh ketersediaan cahaya, kelembapan, dan suhu yang relatif stabil. Zona gua umumnya terbagi menjadi tiga hingga empat habitat utama berdasarkan tingkat penetrasi cahaya, yaitu pintu masuk yang masih terpengaruh kondisi permukaan, zona transisi, zona penetrasi bagian dalam, dan zona cahaya rendah yang hampir gelap total. Semakin jauh dari pintu masuk, intensitas cahaya menurun secara eksponensial sehingga menciptakan gradien fotik yang tajam, sebuah fenomena yang juga ditemukan pada gua-gua litoral dan gua kapur lainnya di berbagai belahan dunia. Studi variasi spasial komunitas mikroalga yang dilakukan tim peneliti adalah pengambilan sampel bertingkat di empat zona ekologis Gua selama tiga periode musim yang berbeda. Morfospesies fototrofik dominan diidentifikasi melalui pengamatan mikroskop, sementara komposisi komunitas dianalisis dalam kaitannya dengan variabel lingkungan utama seperti intensitas cahaya dan kelembapan. Hasil penelitian mencatat sebanyak 23 morfospesies mikroalga dominan di sepanjang gradien gua, dengan sianobakteria menjadi komponen utama baik dalam keragaman spesies maupun kelimpahan, diikuti oleh klorofit dan kelompok alga lainnya. Temuan ini sama dengan berbagai studi mikroalga gua sebelumnya yang menunjukkan bahwa komunitas fototrofik bawah tanah umumnya didominasi oleh sianobakteria yang beradaptasi dengan cahaya rendah, disertai kelompok klorofit yang melimpah di area yang lebih dekat dengan sumber cahaya.

Komposisi komunitas mikroalga berbeda secara signifikan antar zona gua dan sangat terkait dengan intensitas cahaya, yang membedakan habitat fotik yang berbeda satu sama lain. Keragaman spesies menunjukkan respons unimodal sepanjang gradien cahaya, artinya keragaman tertinggi tidak selalu ditemukan di area paling terang, melainkan pada tingkat cahaya menengah yang mendukung keseimbangan antara ketersediaan energi dan tekanan lingkungan lain seperti kelembapan. Analisis multivariat dalam studi ini menunjukkan perubahan komposisi yang jelas dari wilayah pintu masuk yang terang ke zona bagian dalam yang minim cahaya, mencerminkan penyaringan lingkungan yang kuat yang terutama didorong oleh ketersediaan cahaya dan kondisi kelembapan. Pola serupa juga tercatat pada studi gua kapur di Serbia, di mana biomassa sianobakteria dan alga berkorelasi positif dengan intensitas cahaya dan berkorelasi negatif dengan jarak dari pintu masuk gua. Temuan menarik lainnya adalah bahwa penerangan buatan yang terkait dengan infrastruktur pariwisata menciptakan mikrohabitat yang dimodifikasi secara lokal, yang mendukung taksa fototrofik tambahan dibandingkan area gelap alami. Fenomena ini dikenal secara global sebagai “lampenflora”, yaitu komunitas mikroba fototrofik yang tumbuh akibat pencahayaan buatan di gua-gua wisata, dan telah dilaporkan dapat menimbulkan masalah estetika serta kerusakan pada permukaan batu dan speleothem. Studi lain menjelaskan bahwa intensitas dan durasi pencahayaan buatan menjadi faktor kunci yang dapat mendorong proliferasi lampenflora, bahkan pada nilai intensitas cahaya serendah 10 hingga 50 lux. Secara keseluruhan, hasil studi menjelahkan bahwa ketersediaan cahaya merupakan pendorong utama struktur komunitas mikroalga aerofitik dan zonasi di gua, sekaligus menggaris bawahi konsekuensi ekologis dari penerangan gua bagi pengelolaan gua wisata di kawasan tropis. Studi ini menyediakan kerangka kerja ekologis dasar bagi penelitian integratif di masa depan mengenai sistem fototrofik gua, khususnya di wilayah tropis yang selama ini masih kurang mendapat perhatian penelitian dibandingkan gua-gua di kawasan beriklim sedang.

Penulis: Wan Maznah Wan Omar, Mohammad Basri Eshak, Luthfiana Aprilianita Sari, Zulaihat Hamza Abdullahi, Yusuf Abdullahi

Detail tulisan ini dapat diakses pada: Light-driven zonation and community structure of aerophytic microalgae in a tropical limestone cave (Gua Tempurung, Malaysia). International Journal of Speleology, 55(2), Article ijs2594. https://doi.org/10.5038/1827-806X.ijs2594

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top