Dalam praktik keperawatan jiwa, Model Transaksional Stres dan Koping (Transactional Model of Stress and Coping) yang dikembangkan oleh Lazarus dan Folkman digunakan secara luas sebagai kerangka kerja utama untuk manajemen stres. Namun, perkembangan literatur menunjukkan bahwa pada kondisi stres berat dan krisis eksistensial—khususnya ketika stresor bersifat tidak dapat diubah (immutable)—pendekatan restrukturisasi kognitif yang murni sekuler dapat dilengkapi dengan mengintegrasikan dimensi spiritual. Studi konseptual tentang pencarian makna (meaning-making) menekankan bahwa upaya mencari makna yang tidak menghasilkan resolusi justru dapat berkembang menjadi ruminasi dan penderitaan psikologis (psychological distress) yang berkepanjangan. Hal ini menyoroti perlunya kerangka kerja koping terintegrasi yang mampu memberikan stabilitas makna dan memperkuat resiliensi pada tingkat yang lebih fundamental.
Artikel ini merumuskan pendekatan koping komplementer yang menggabungkan proses penilaian sekunder (secondary appraisal) dalam model Lazarus dengan konsep tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) karya Ibn Qayyim al-Jawziyya. Integrasi ini bertujuan memperluas keterbatasan perspektif kognitif sekuler melalui kedalaman psikologis teosentris.
- Desain: Analisis konseptual dan teoritis menggunakan pendekatan diskursif-integratif.
- Tinjauan Pustaka: Dilakukan secara naratif dan purposif pada basis data ilmiah utama tanpa sintesis sistematis.
- Standar Pelaporan: Menggunakan pedoman SANRA (Scale for the Assessment of Narrative Review Articles) untuk meningkatkan transparansi laporan.
Hasil Analisis
| Dimensi Kognitif Sekuler | Kerangka Integratif Tazkiyatun Nafs |
| Fokus Utama | Restrukturisasi kognitif (mengubah konten pikiran). |
| Pusat Efikasi | Anthropocentric Self-Efficacy (kepercayaan pada kontrol diri). |
| Resolusi Ketidakberdayaan | Berisiko memicu ruminasi saat stresor di luar kendali. |
Kesimpulan
Sintesis teoritis ini menghasilkan kerangka kerja Islamic Psychoreligious Coaching (IPsCo). Bagi individu Muslim yang mengalami distres psikososial, model IPsCo menawarkan intervensi yang tidak hanya berfokus pada pengurangan gejala, melainkan pada pencapaian ketenangan jiwa (nafs muṭma’innah) melalui integrasi makna spiritual dan orientasi teologis yang koheren. Model IPsCo kini menjadi fondasi teoritis yang siap dioperasionalkan dan diuji secara klinis pada penelitian selanjutnya.
Penulis: Prof. Dr. Ah. Yusuf S., S.Kp., M.Kes.
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/42295161/
