Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Desensitisasi protein susu sapi pada anak dengan alergi susu sapi di Asia

29 Views•3 minutes read

Alergi protein susu sapi (APSS) mempengaruhi hingga 3% anak di dunia, dengan prevalensi bervariasi di berbagai wilayah. Di Asia data epidemiologi masih belum banyak dilaporkan, namun publikasi beberapa studi menunjukkan tren peningkatan APSS, terutama di perkotaan. Secara tradisional, penanganan APSS di dunia masih bergantung pada penghindaran ketat protein susu sapi sampai berkembangnya toleransi spontan. Meskipun cara ini sangat efektif mencegah timbulnya reaksi alergi namun penghindaran berkepanjangan dapat menunda tercapainya toleransi, berdampak negatif pada selera anak terhadap kesukaan akan keragaman makanan, dan berpengaruh terhadap status nutrisi, sehingga untuk mempercepat terjadinya toleransi diperlukan penanganan khusus dengan desensitisasi protein susu sapi baik dengan cara milk ladder (ML) maupun oral imunoterapi (OIT) susu sapi. Dalam konteks Asia, di mana akses ke spesialis alergi masih terbatas dan pola makan sangat dipengaruhi oleh norma budaya, membandingkan ML dan OIT tidak hanya relevan tetapi juga penting. ML menunjukkan keunggulan dalam fleksibilitas, keterjangkauan, dan kompatibilitas budaya, namun menghadapi tantangan dalam memvalidasi resep yang diadaptasi secara lokal dan menstandarisasi dosis protein. Sementara itu, OIT telah dievaluasi di pusat-pusat tersier terutama Jepang dan Korea, menunjukkan hasil menjanjikan dalam mempercepat toleransi anak dengan APSS yang dimediasi IgE. Studi retrospektif menyatakan ML dan OIT menghasilkan efektivitas sebanding dalam mencapai toleransi susu sapi, meskipun ML lebih mudah diakses dan diterima oleh keluarga di lingkungan dengan sumber daya terbatas.

Dimensi Budaya dan Klinis Terapi Milk Ladder: Tinjauan Naratif dari Konteks Asia

Strategi toleransi untuk alergi protein susu sapi (APSS) di Asia memerlukan pendekatan adaptif berbasis bukti. Pendekatan ML menawarkan alternatif pengenalan kembali protein susu sapi dengan cara bertahap dan terstruktur, dimulai dengan produk susu sapi yang dipanggang secara ekstensif, di mana pemanasan dengan suhu tinggi dengan derajat tertentu akan mendenaturasi sebagian protein alergenik, dan berlanjut pemberian selanjutnya dengan selangkah demi selangkah ke dalam bentuk yang diproses lebih minimal dibanding sebelumnya sehingga komponen protein susu sapi yang di denaturasi lebih berkurang dibanding sebelumnya. Metode ini tidak hanya mendukung toleransi lebih awal tetapi juga memberdayakan keluarga melalui manajemen berbasis rumah di bawah bimbingan profesional. Namun, tantangan terkait validasi metode peresepan dalam membuat menu makanan, pendidikan pengasuh, dan infrastruktur perawatan kesehatan memerlukan evaluasi komparatif yang ketat. Meskipun sudah mapan di Inggris dan Irlandia, penerapannya di Asia masih belum konsisten, dengan adaptasi yang sering terjadi secara informal dalam praktik klinis, maka diperlukan pengembangan pedoman yang disesuaikan secara regional, ditambah studi multisenter sangat penting untuk memastikan keamanan, efikasi, dan keberlanjutan metode desensitisasi ini di dalam sistem perawatan kesehatan.

Penulis : Azwin Mengindra Putera, dr, SpA(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: http://doi.org/10.21911/aai.2026.1152

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top