Dr Hai Phung memaparkan materi secara luring di Aula Soemarto FKM. (Foto: Istimewa).

Pakar Kesehatan Masyarakat Soroti Ancaman Perubahan Iklim bagi Kesehatan Masyarakat

40 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Senior Lecturer dan Academic Lead bidang Kesehatan Masyarakat di Griffith University, Australia, Dr Hai Phung memberikan pemaparannya terkait hubungan perubahan iklim dengan kesehatan penduduk. Ia menegaskan bahwa perubahan iklim memperbesar risiko kesehatan yang sudah ada. 

Gelombang panas, banjir, asap kebakaran hutan, kekeringan, dan siklon merupakan bahaya utama. Hal ini juga melipatgandakan risiko kesehatan dan dampaknya yang tidak merata.

“Sekarang asap kebakaran hutan sangat parah. Warga di daerah terpencil kehilangan rumah, sementara layanan kesehatan ikut terputus. Mereka sulit mendapat bantuan karena masalahnya terlalu besar,” ujarnya dalam webinar internasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) pada Minggu (18/10/2026) di Aula Soemarto FKM Kampus Merr-C. 

Berdasarkan data Queensland, Dr Hai mengatakan bahwa selama 2010 hingga 2019, hari gelombang panas mencatat angka kematian sekitar 5 persen lebih tinggi. Kunjungan ke instalasi gawat darurat makin padat dengan naik 10,47 persen.

“Gelombang panas ekstrem di wilayah terpencil dan rawan menanggung beban berat. Keberadaan pihak komunikasi risiko, seperti badan penanganan bencana, harus menyesuaikan agar masyarakat paham terhadap kondisinya,” jelasnya.

Dr Hai mengajak mahasiswa berpikir seperti praktisi kesehatan masyarakat. “Epidemiologi membuat jalur yang meliputi alur bahaya iklim, perubahan lingkungan, paparan, dampak kesehatan, hingga pada komunitas, menunjukkan titik tempat pencegahan bisa memutusnya,” ungkapnya.

Ia memperkenalkan pendekatan One Health yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem. “Dinas kesehatan, pemadam kebakaran, dan lembaga lingkungan harus bekerja sama menghadapi masalah besar ini,” jelasnya.

Ia juga menekankan sistem surveilans terpadu. Sistem ini menggabungkan data cuaca, lingkungan, hewan, manusia, dan komunitas. Kuncinya berada pada data-data yang terhubung mampu memicu keputusan.

Ia merangkum cara kerja dalam empat langkah meliputi lihat, hubungkan, bertindak, dan belajar. “Petugas mendeteksi bahaya, menghubungkan data manusia, hewan dan lingkungan, lalu menargetkan pencegahan kelompok rentan. Setelah itu mengevaluasi hasilnya,” terangnya.

Dr Hai mengingatkan bahaya yang sama tidak menimbulkan risiko yang sama. Bekerja bersama masyarakat dengan pendekatan co-design menjadi langkah baru melalui partisipasi bersama berbagai pihak.

“Partisipasi komunitas meningkatkan relevansi, jangkauan, kepercayaan, dan pelaksanaan program,” ujarnya.

Ada tiga pihak yang berperan besar dalam kolaborasi ini. Universitas menyumbang metode dan evaluasi independen. Lembaga kesehatan memegang kewenangan operasional. Komunitas membawa pengetahuan lokal dan kepercayaan.

“Risiko iklim yang meningkat membutuhkan peran epidemiologi hingga pendekatan One Health. Pencegahan harus berlapis, berbasis tempat, dan komunitas ikut merancang di dalamnya,” pungkasnya.

Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top