TEP 18 UNAIR Siapkan Kebun Anggur Manokwari Jadi Pariwisata Pedesaan

86 Views•3 minutes read

UNAIRNEWS – Di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses pasar yang kerap menjadi tantangan klasik wilayah transmigrasi di Indonesia Timur, sebuah kebun anggur di Kampung Udapi Hilir, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, justru tumbuh menjadi contoh inovasi lokal yang bertransformasi menjadi peluang ekonomi baru. Adalah Manokwari Anggur, usaha rintisan milik Pak Manto, yang kini menjadi sorotan setelah menjalin kolaborasi riset dan pendampingan bersama Tim 18 Ekspedisi Patriot UNAIR.

Kesuburan tanah di kawasan transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, tidak hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk bercocok tanam, tetapi juga membuka peluang tumbuhnya usaha baru yang memiliki nilai ekonomi. Salah satunya adalah Manokwari Anggur, perkebunan buah yang dikembangkan menjadi wisata alternatif berbasis edu-agrowisata (edu-agrotourism) oleh Pak Manto di SP4, Kampung Udapi Hilir, Prafi, Manokwari, Papua Barat.

Lebih dari lima tahun berjalan, melalui kegigihan dan semangat dari pak Manto, Manokwari Anggur berkembang menjadi salah satu usaha yang memanfaatkan potensi pertanian lokal. Selain itu usaha ini menjadi wisata alternatif (alternative tourism) dengan konsep edukasi dan wisata bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.

Selama ini, berbagai komoditas buah dengan kualitas tinggi masih banyak dipasok dari luar daerah karena keterbatasan budidaya di tingkat lokal. Kondisi tersebut justru dilihat sebagai peluang oleh pak Manto sebagai pemilik Manokwari Anggur untuk mengembangkan komoditas buah yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menciptakan sirkulasi ekonomi di sekitar kawasan transmigrasi.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menghadirkan buah dengan kualitas tinggi di Manokwari. Selama ini banyak yang didatangkan dari luar. Saya mencoba membudidayakannya sendiri di sini,” ujar pak Manto, pemilik Manokwari Anggur dalam kegiatan kunjungan riset.

Perkembangan Manokwari Anggur juga menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat dikombinasikan dengan sektor pariwisata dan pendidikan. Kebun yang awalnya dikembangkan sebagai lahan produksi secara bertahap dikenal sebagai salah satu tempat yang dapat dikunjungi masyarakat transmigran.

Pengembangan kawasan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDG) Nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Melalui pengembangan dari perkebunan anggur hingga menjadi model pariwisata pedesaan yang berkelanjutan (sustainable rural tourism), Manokwari Anggur diharapkan mampu menciptakan ekosistem bisnis lokal, mulai dari penyediaan bibit, bahan produksi, hingga kolam pancing yang mampu menyerap tenaga kerja sekitar.

Hal ini menegaskan keterkaitan erat antara pariwisata dan pertumbuhan ekonomi (tourism and economic growth). Prinsip pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang diterapkan mampu membuktikan bahwa pertumbuhan yang didukung oleh pariwisata (tourism-led growth) dapat dibangun dari inisiatif skala lokal.

Potensi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan Tim 18 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga. Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka riset komprehensif sekaligus pendampingan terhadap pengembangan potensi kawasan, termasuk melalui strategi digital marketing.

Langkah kolaborasi ini disambut baik oleh pak Manto, selaku pemilik dari Manokwari Anggur. Langkah kolaborasi ini dapat memperkuat branding dan memperluas jangkauan pemasaran produk pertanian lokal.

“Saya harap dengan adanya kolaborasi bersama Tim Ekspedisi Patriot ini, apa yang saya bangun dan cita-citakan untuk membantu masyarakat juga dapat terwujud”, pungkasnya.

Produk-produk yang dikembangkan masyarakat transmigran dinilai memiliki kualitas yang tidak kalah dibandingkan dengan produk yang selama ini didatangkan dari luar Manokwari. Tantangannya adalah bagaimana kualitas tersebut dapat dikomunikasikan, dipasarkan, dan dikenal oleh konsumen secara lebih luas.

Disinilah melalui integrasi pemasaran digital dapat menjadi instrumen penting. Produk pertanian lokal tidak hanya membutuhkan produksi yang baik, tetapi juga membutuhkan strategi untuk membangun identitas, memperluas jangkauan pasar, serta mempertemukan produsen dengan konsumen. Strategi ini diharapkan dapat menjadi instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif sekaligus mendukung pengentasan kemiskinan di kawasan transmigrasi Prafi, Manokwari.

Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top