UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali perluas pengabdiannya kepada masyarakat. Desa Burno, Kecamatan Senduro, Lumajang menjadi lokasi pengabdian masyarakat (pengmas) FKH, yang terselenggara pada Sabtu (24/10/2026). Diketuai oleh Prof Dr Sri Pantja Madyawati drh MSi, pengmas skema kemitraan masyarakat desa binaan ini mengusung tajuk Implementasi Sistem Rekording Terpadu untuk Meningkatkan Manajemen Produksi Sapi Perah di Poktan Wonosari, Desa Burno, Senduro, Lumajang.
Pemantauan Produksi Ternak
Prof Pantja menuturkan bahwa pengmas kali ini berfokus pada sistem rekording, yakni pencatatan data sapi perah secara sistematis dan berkelanjutan. Khususnya mengenai identitas, reproduksi, produksi susu, pakan, dan kesehatan.
“Rekording ini penting karena bisa membantu memantau produktivitas susu. Mendeteksi penurunan produksi lebih awal. Kemudian yang kedua, bisa untuk mengelola reproduksi dan kesehatan, dan yang ketiga bisa mengendalikan pakan dan biaya,” ujarnya di Balai Dusun Karanganyar, Desa Burno, Lumajang.
Lebih lanjut, Prof Pantja mengatakan bahwa pengmas ini menyasar para peternak sapi perah yang tergabung dalam poktan Wonosari. Berdasarkan survei yang sebelumnya telah dilakukan, poktan Wonosari terbilang maju, baik dari sisi pengelolaan maupun hasil peternakan.
“Poktan Wonosari ini kami pilih karena sudah cukup maju. Sudah punya hasil ternak yang bagus, sehingga harapannya para anggota bisa mengimplementasikan materi hari ini dengan baik pada masing-masing ternaknya,” terangnya.
Dengan sistem rekording, imbuh Prof Pantja, nantinya para peternak sapi perah dapat melakukan evaluasi dan kajian untuk pengambilan keputusan atau tindakan selanjutnya. Ia berharap, poktan Wonosari dapat menjadi pionir dalam implementasi sistem rekording terpadu digital ini.
“Harapan kami, poktan Wonosari bisa menjadi pionir untuk melaksanakan ilmu yang kami berikan tentang sistem pencatatan ini. Semoga ini juga bisa ditularkan ke poktan yang lain,” tegasnya.
Sapi Perah dan Potensinya di Lumajang
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang, drh Endra Novianto mengatakan, peternakan sapi perah telah menjadi salah satu sektor pendukung perekonomian di Kabupaten Lumajang. Ia menyebutnya dengan istilah Jawa, raja kaya, yang kerap dianggap sebagai simbol kemakmuran.
“Alhamdulillah sapi perah memberikan dampak yang cukup besar. Keberadaan sapi perah ini sangat membantu. Mulai dari kehidupan sehari-hari hingga membantu meningkatkan derajat pendidikan,” tuturnya.

Di Kabupaten Lumajang, lanjutnya, pengembangan sapi perah memiliki potensi yang sangat besar. Namun, di balik potensi itu, terdapat pula ancaman dan tantangan, salah satunya penyakit mulut dan kuku (PMK).
“Pasca PMK, banyak kandang yang kosong. Ini menjadi PR (pekerjaan rumah, red) kita bersama untuk memperbaiki peternakan kita dengan sistem rekording. Ini terlihat sederhana, tetapi sangat bermanfaat,” imbuhnya.
Ketua Poktan Wonosari, Sucipto dan Sekretaris Poktan, Suhariyanto, turut menyampaikan apresiasinya. Mereka mengaku sangat terbantu dengan adanya pengmas ini.
“Matur nuwun sanget. Ke depan kelompok kami akan mencoba melakukan manajemen kandang. Kalau sekarang diberikan bimtek (bimbingan teknis) seperti ini, mudah-mudahan kelompok kami bisa menyerap ilmunya,” kata Sucipto.

Sementara itu, menurut Hari, pengenalan rekording digital melalui aplikasi yang dikenalkan oleh tim FKH UNAIR, yakni DairyTrack, sangat membantu untuk mereka untuk lebih disiplin dalam melakukan pencatatan dan manajemen ternak.
“Program dari UNAIR ini sangat membantu. Harapan kami bisa dilanjutkan juga. Dengan adanya program dari UNAIR ini, kami bisa memantau hasil dan peningkatan produksi susu dari ternak kami. Mungkin ke depan bisa ada keberlanjutan dari UNAIR untuk poktan Wonosari,” harapnya.
Melalui pengmas ini, FKH UNAIR tidak hanya membantu memaksimalkan potensi ternak sapi perah di Kabupaten Lumajang. FKH UNAIR juga turut mengimplementasikan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama SDG 1 (Pengentasan Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Kedua tujuan SDGs tersebut terimplementasi melalui sistem rekording terpadu yang membantu memaksimalkan potensi ternak sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan hidup peternak.
Penulis: Yulia Rohmawati
