Poktan Wonosari, Desa Burno, Kecamatan Senduro, Lumajang melakukan uji coba penggunaan aplikasi DairyTrack, Sabtu (24/10/2026)

DairyTrack, Solusi Digital untuk Pengelolaan Data dan Produksi Sapi Perah 

203 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Di tengah perkembangan teknologi yang semakin masif, berbagai sektor kehidupan harus turut beradaptasi. Tidak terkecuali sektor pertanian dan peternakan. Berbagai sistem yang semula berjalan secara manual, kini dapat lebih efektif dan efisien dengan bantuan teknologi. Sistem rekording sapi perah berbasis digital bernama DairyTrack yang dikenalkan oleh drh Ali Saifudin MSc menjadi salah satu buktinya.

Melalui paparannya dalam pengabdian masyarakat bersama tim Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) di Dusun Karanganyar, Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, ia menuturkan bahwa rekording sangat penting bagi peternak. “Jika kita tidak dapat mencatat dan mengukurnya, kita tidak akan bisa me-manage-nya (mengatur, red),” ucapnya di Balai Dusun Karanganyar, Sabtu (24/10/2026).

Semula, para peternak masih menggunakan rekording manual dalam mencatat pengelolaan ternaknya. Namun, rekording manual menggunakan kertas rentan mengalami berbagai kendala. Misalnya, catatan kertas rentan mengalami basah, robek, atau bahkan tertinggal di kandang. Akibatnya, riwayat produksi yang berharga dari satu sapi bisa hilang seluruhnya dalam sekejap. 

Sistem rekording, kata drh Ali, kini telah mengalami berbagai perkembangan, termasuk integrasi dengan teknologi. “Dunia sudah berubah, maka cara kerja kita juga harus berubah,” katanya.

Seorang laki-laki mengenakan kaos berwarna hijau, berdiri dan memegang mikrofon, sedang berbicara di hadapan audiens. Ia adalah drh Ali Saifudin, anggota pengmas FKH UNAIR sedang mengenalkan aplikasi DairyTrack kepada poktan Wonosari, Desa Burno, Lumajang.
drh Ali Saifudin MSc, pemateri sekaligus anggota tim pengmas FKH UNAIR di Desa Burno, Lumajang sedang menyampaikan materi rekording digital melalui aplikasi DairyTrack (Foto: Humas UNAIR)

Persoalan yang kerap muncul dalam sistem rekording manual ternak sapi menjadi pendorong lahirnya aplikasi DairyTrack. DairyTrack yang drh Ali kenalkan memiliki berbagai keunggulan. “DairyTrack ini ringan, tanpa proses instalasi yang rumit. Hanya 68 KiB, menggunakan teknologi PWA (Progressive Web App), dan selalu tersedia versi terbaru,” imbuhnya.

Keunggulan lainnya dari DairyTrack adalah bahwa aplikasi ini tetap mencatat dengan lancar walau sinyal tidak stabil atau lemah. Melalui DairyTrack, seluruh riwayat sapi akan terangkum dalam satu genggaman. Mulai dari pakan dan suplemen, diagnosis penyakit, produksi susu, hingga jadwal reproduksi. 

DairyTrack bersifat mengubah data menjadi informasi, pengetahuan, dan kebijakan. Dengan kata lain, aplikasi ini membantu peternak sapi untuk menentukan sebuah kebijakan dalam pengelolaan ternaknya dengan berdasarkan data dan informasi yang akurat.

Melalui pengenalan aplikasi tersebut, drh Ali berharap, Poktan Wonosari yang menjadi sasaran pengmas FKH UNAIR ini dapat menjadi contoh bagi poktan dan peternak lainnya di Indonesia. “Harapannya tentu nanti poktan Wonosari bisa menjadi percontohan poktan lainnya. Harapannya dari Dusun Karanganyar bisa jadi mendunia,” pungkasnya.

Penulis: Yulia Rohmawati

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top