Prof Badri bersama CEO Quacquarelli Symonds dan pimpinan tuan rumah saat membuka gelaran QS Higher Ed Summit: Asia Pacific secara simbolis dengan pemukulan gong, Selasa (3/11/2026) di Bali International Convention Center (BICC)

Buka Gelaran QS Higher Ed Summit, Prof Badri Tekankan Pentingnya Orientasi Pendidikan Berdampak

25 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Alumnus sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Badri Munir Sukoco SE MBA PhD menegaskan pentingnya mengarahkan orientasi pendidikan masa kini dengan memahami secara mendalam alasan mendasar di balik penggalian suatu ilmu pengetahuan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam pembukaan kegiatan QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026.

“Lebih dari sekadar kompetensi teknis, generasi masa depan perlu penanaman nilai-nilai yang kuat, pemikiran kritis, tanggung jawab etis, dan empati kemanusiaan,” ujar Prof Badri di Bali International Convention Center (BICC), Selasa (3/11/2026).

Dalam ajang yang menjadi wadah kolaborasi strategis lebih dari 1.500 akademisi dari 40 negara seluruh dunia itu, Prof Badri menambahkan bahwa tujuan tanpa eksekusi nyata hanyalah ilusi. Fokus utama perguruan tinggi harus berorientasi pada dampak nyata yang melampaui dinding ruang kuliah.

Dampak tersebut terwujud melalui aksi konkret, seperti terobosan pertanian kampus yang membantu petani mengatasi perubahan iklim hingga inovasi energi bersih mahasiswa yang menerangi desa terpencil. Menurutnya, keberhasilan institusi diukur dari efektivitasnya mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil, mengentaskan kemiskinan, dan menjaga kelestarian bumi.

Di Indonesia, pemerintah menegaskan komitmennya terhadap visi transformatif tersebut dengan menyatukan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi ke dalam satu kementerian terpadu. “Hal ini meruntuhkan sekat sejarah antara penemuan dan penerapannya, sekaligus membangun ekosistem dinamis agar keunggulan akademis dapat langsung mendorong kemajuan pendidikan nasional,” lanjut Guru Besar FEB UNAIR itu.

Prof Badri Munir Sukoco SE MBA PhD saat memberikan sambutan dalam gelaran QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026
Prof Badri Munir Sukoco SE MBA PhD saat memberikan sambutan dalam gelaran QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026, Selasa (3/11/2026) (Foto: Humas UNAIR)

Namun, menghadapi tantangan global seperti ketegangan geopolitik, perubahan iklim, hingga tata kelola etika AI, tidak ada satu negara pun yang dapat berdiri sendiri. Kawasan Asia-Pasifik kini membutuhkan era kolaborasi radikal yang melampaui persaingan akademis demi membangun kolaborasi.

“Peringkat dunia memberi kita kredibilitas untuk memimpin, sementara dampak adalah bukti bahwa kita telah memimpin dengan baik,” tegas alumnus UNAIR itu.

Prof Badri berpesan kepada seluruh insan akademik untuk menempatkan para mahasiswa dan talenta untuk siap menyongsong masa depan global. “Peringkat dunia memang mencerminkan kemampuan kita, namun dampak kitalah yang mendefinisikan warisan kita,” katanya.

Gagasan tentang pendidikan berorientasi dampak dan etika tersebut selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 4, pendidikan berkualitas. Tidak hanya itu, dorongan untuk memperkuat kolaborasi antar institusi pendidikan guna menghadapi tantangan global juga mencerminkan SDG 17, kemitraan untuk mencapai tujuan.

Penulis: Destialova Rully Cajuizi

Editor: Yulia Rohmawati

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top