UNAIR NEWS – Sirkulasi ekonomi peternakan tradisional terbilang cukup lambat. Hasil keuntungan penjualan perahan susu harian dan karkas yang tak tentu setiap bulan belum memberikan pemasukan maksimal. Limbah sebagai hasil sampingan berpotensi menjadi produk tambahan bernilai ekonomis yang dapat peternak olah sendiri.
Universitas Airlangga (UNAIR) mendorong hal itu melalui pengabdian masyarakat Optimalisasi Produktivitas Ternak Domba dan Kambing Secara Berkelanjutan Melalui Integrasi Keuangan, Pakan, dan Limbah (KPI) Pada Kelompok Banyuwangi Goat Sheep Breeder yang berlokasi di Peternakan Pak Tunggal, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.
Pengolahan Limbah Kambing Jadi Biogas dan Vermicomposting
Pemateri pertama, Dwi Ratri Mitha ST MT mengatakan hampir semua bahan organik dapat menjadi sumber bahan biogas. Data menunjukkan perbandingan komposisi karbon dan nitrogen pada kotoran kambing mencapai rasio 30. Artinya pengolahan menjadi biogas berpotensi untuk dilakukan masyarakat. Terlebih lagi kambing dengan bobot 30 hingga 100 kilogram dapat menghasilkan 3 persen kotoran dan 1,5 persen urin dari total berat tubuh.
“Kotoran kambing yang akan diproses menjadi biogas harus masuk kedalam sebuah alat digester yang kedap udara dengan bantuan dari bakteri anaerob,” kata dosen Teknik Lingkungan UNAIR itu dalam kegiatan berlangsung pada Sabtu (18/10/2025) yang diikuti oleh 30 masyarakat wilayah tersebut.
Dosen Teknik Lingkungan UNAIR, Dr Rizky Amaliyah Barakwan ST menuturkan kotoran kambing dapat diolah menjadi produk selain biogas. Proses vermikomposting menjadi salah satu alternatif yang lebih sederhana. Terdapat dua produk hasil dari pengolahan vermicomposting menggunakan media cacing tanah sebagai pengurai kotoran kambing. Berupa pupuk organik padat dengan kandungan hara tinggi sebagai penyubur alami tanah. Serta biomassa cacing sebagai pakan ternak maupun bahan baku dengan kandungan protein tinggi.

“Secara peralatan dan biaya mungkin teknik ini menjadi pengolahan paling murah dan hanya tinggal menunggu cacing menguraikan kotoran kambing menjadi pupuk maupun cacing itu sendiri,” tutur pemateri kedua tersebut.
Pemasaran yang Lebih Luas
Dosen Ekonomi Pembangunan UNAIR, Angga Erlando SE MEc Dev menjelaskan peternak harus mengembangkan mitra bisnis agar sirkulasi keuangan dapat berjalan dengan lancar. Sekarang produk hasil susu perah masyarakat masih bergantung penjualan ke pabrik melalui pengepul.

Penurunan harga dan fluktuasi penyerapan hasil pemerahan susu yang terserap menjadi hal yang tak dapat peternak hindari. Akhirnya susu terbuang percuma bila penyimpanan tidak mencukupi. Peternak harus membangun kemitraan dengan melakukan pemasaran digital yang luas untuk menemukan pelanggan.
“Facebook menjadi tempat yang sekarang peternak pakai untuk berinteraksi dengan calon pembeli. Tanpa disadari ternyata disitulah para penjual yang lebih banyak menjadi audiensnya,” jelasnya.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Yulia Rohmawati





