Kemampuan beradaptasi dimaknai sebagai kemampuan dalam hal penyesuaian kognitif, afektif dan perilaku yang tepat dalam menghadapi ketidakpastian dan kebaruan. Penyesuaian kognitif mengacu pada modifikasi dalam berfikir untuk menghadapi tuntutan baru dan tidak pasti. Penyesuaian perilaku mengacu pada modifikasi dalam lingkungan, level dan tingkat perilaku untuk menangani situasi dan kondisi yang baru dan tidak pasti. Penyesuaian afektif dimaknai sebagai kecenderungan-respons emosional yang dapat dikondisikan untuk menghadapi ketidakpastian dan kebaruan lingkungan. Adaptabilitas merupakan keterampilan yang sifatnya permanen. Individu dengan adaptabilitas tinggi akan ditandai dengan mindset baru dan perilaku yang baru.
Adaptabilitas tidak sekadar individu bisa survive (adapt to survive), tetapi juga individu bisa berkembang (adapt to thrive). Adaptabilitas membutuhkan pemahaman terhadap realitas melalui adaptasi pola pikir dan adopsi cara kerja yang baru. Untuk mencapai itu, dibutuhkan keterampilan kognitif, keterampilan relasional, dan adanya dukungan sosial yang diperoleh individu. Kapasitas seseorang untuk dapat beradaptasi dengan perubahan di lingkungannya merupakan hal terpenting karena dengan kemampuan adaptasi memungkinkan individu dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam berbagai keadaan yang berubah-ubah secara inheren dalam kehidupannya.
Kemampuan beradaptasi sangat relevan bagi pendidik dalam mengajar yang menuntut kemampuan mengelola perubahan secara konstan. Kemampuan mengelola perubahan secara konstan juga harus dimiliki oleh guru bimbingan dan konseling. Guru BK harus mampu menjalin komunikasi dengan siswa, berkonsultasi dengan orang tua siswa, berkoordinasi dengan guru maupun kepala sekolah. Terlebih lagi, tanggungjawab guru BK lebih bersifat individual dan mendalam dibandingkan dengan guru mata pelajaran. Berikut beberapa alasan, mengapa guru BK harus memiliki kemampuan adaptasi yang baik
- Guru BK harus menanggapi perbedaan dan kebutuhan siswa yang berubah dengan menyesuaikan perbedaan karakteristik individu, menyesuaikan kegiatan untuk siswa yang berbeda, atau mencari sumber daya yang berbeda untuk lebih menjelaskan atau mengilustrasikan poin-poin penting dalam mengoptimalkan tumbuh kembang siswa
- Guru BK harus mampu beradaptasi dalam menghadapi situasi yang tidak terduga dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling dengan mengatur emosi yang mungkin timbul seperti frustrasi, kemarahan atau kegembiraan serta memikirkan alternatif untuk menyelesaikan masalah.
- Guru BK juga harus berinteraksi secara efektif dengan kolega dalam kondisi yang tidak menentu, seperti ketika ada perubahan peran pekerjaan, perpindahan tempat kerja, menyesuaikan dengan prioritas yang berbeda dari kepala sekolah atau kolega baru, dan siswa baru (Trisnowati, 2016).
- Perubahan umum di sebagian besar yang dialami di sekolah dengan perubahan dalam sistem, kurikulum maupun penjadwalan yang terjadi secara teratur atau penugasan yang mendadak dan kadang-kadang pada menit terakhir seperti kondisi pandemi Covid-19 (Retnaningdyastuti, 2018).
- Guru BK harus siap untuk mendengarkan segala bentuk permasalahan siswa yang beragam, kadang di luar ekspektasi guru Bk sebelumnya. Guru BK harus mampu memahami dan menarik kesimpulan secara tepat, untuk memberikan respons yang sesuai dengan yang diharapkan konseli. Sementara itu, karakteristik guru BK dengan siswa berbeda, siswa merupakan generasi digital native sedangkan guru BK merupakan generasi digital imigrant
- Guru BK harus memiliki inisiatif terlibat dalam organisasi profesi untuk meningkatkan profesionalitasnya dan terus mengintegrasikan pengetahuan baru ke dalam layanan bimbingan dan konseling. Selain itu, perubahan kurikulum atau kebijakan mungkin memerlukan adaptasi lebih lanjut dari guru BK.
Kemampuan untuk menanggapi kebaruan, perubahan, dan ketidakpastian secara efektif, merupakan ciri pekerjaan membimbing dan merupakan kapasitas yang sangat penting bagi guru BK. Konsep kemampuan adaptasi ini diadaptasi melalui model adaptasi tripartite (yang relevan dengan penyesuaian pada aspek kognitif, afektif dan perilaku). Contohnya, jika seorang guru BK diminta untuk membantu siswa dalam memecahkan permasalahan yang sebelumnya belum pernah dialami, dan merupakan hal baru bagi guru BK maka dalam konteks ini berhubungan dengan perubahan yang membutuhkan pengaturan pemikiran untuk menemukan alternatif pemecahan masalahnya (cognitive adaptability), mengatur perilaku untuk mencari orang yang dapat memberikan bantuan yang relevan dengan konteks permasalahan (behaviour adaptability), dan mengatur emosi untuk fokus pada penentuan solusi secara terfokus dan tepat waktu (emotional adaptability).
Penulis: Dr. Nur Ainy Fardana Nawangsari, S.Psi., M.Si.
Jurnal: Adaptation I-Adapt Measurement in The Context of Guidance and Counseling Teachers





