Universitas Airlangga Official Website

Adaptasi Brief COPE untuk Penyintas Kekerasan dalam Rumah Tangga di Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan pengalaman traumatis yang berdampak luas terhadap kondisi psikologis perempuan. Penyintas KDRT tidak hanya menghadapi luka fisik, tetapi juga tekanan emosional berkepanjangan yang memengaruhi cara mereka memaknai diri, hubungan sosial, dan masa depan. Dalam situasi penuh tekanan tersebut, strategi koping, yaitu cara individu merespons dan mengelola stress, menjadi faktor kunci dalam proses pemulihan psikologis.

Salah satu alat ukur yang paling banyak digunakan untuk mengidentifikasi strategi koping adalah Brief COPE Scale yang dikembangkan oleh Carver. Alat ukur ini dinilai praktis karena lebih ringkas dibandingkan instrumen koping lainnya, namun tetap mampu menangkap variasi strategi koping yang digunakan individu. Meski telah banyak digunakan secara internasional, penggunaan Brief COPE di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama terkait perbedaan bahasa, budaya, dan konteks sosial yang memengaruhi cara perempuan memaknai dan menjalani pengalaman kekerasan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, sekelompok peneliti dari Universitas Mulawarman, Universitas Airlangga, dan Universitas Trunojoyo Madura melakukan penelitian untuk mengadaptasi Brief COPE Scale agar sesuai dengan konteks budaya Indonesia, khususnya bagi perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian ini dipublikasikan dalam International Journal of Body, Mind and Culture Volume 12 Nomor 1 Tahun 2025 dengan judul Adaptation of the Brief Cope Scale for Indonesian Female Domestic Violence Survivors: A Culturally-Informed Process Using ITC Guidelines

Proses Adaptasi yang Berbasis Budaya

Adaptasi alat ukur psikologis bukan sekadar menerjemahkan bahasa, tetapi juga memastikan bahwa makna, konteks, dan pengalaman psikologis yang diukur benar-benar relevan dengan budaya sasaran. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan International Test Commission (ITC) Guidelines for Test Adaptation, yang menekankan pentingnya kesetaraan konseptual dan budaya dalam adaptasi instrumen. Proses adaptasi dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari penerjemahan maju (forward translation) ke dalam Bahasa Indonesia, penerjemahan balik (back translation) ke Bahasa Inggris, hingga penilaian oleh para ahli psikologi klinis dan positif. Selain itu, peneliti juga melibatkan penyintas KDRT sebagai pembaca item untuk memastikan setiap pernyataan mudah dipahami dan sesuai dengan pengalaman nyata mereka.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi kata, frasa, atau konsep yang secara linguistik benar tetapi kurang sesuai secara kultural. Dengan demikian, adaptasi yang dilakukan tidak hanya akurat secara bahasa, tetapi juga sensitif terhadap nilai, norma, dan pengalaman perempuan Indonesia.

Hasil Adaptasi: Tidak Semua Strategi Koping Relevan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, tiga dimensi utama koping dalam Brief COPE, yaitu problem-focused coping, emotion-focused coping, dan avoidance coping, tetap dapat digunakan dalam konteks Indonesia. Namun, tidak semua indikator dan item di dalamnya terbukti relevan.

Dari total 28 item awal, hanya 18 item yang dinyatakan valid dan layak digunakan setelah melalui uji validitas konstruk menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA). Beberapa item harus dieliminasi karena tidak sesuai dengan pengalaman penyintas KDRT di Indonesia. Salah satu temuan penting adalah gugurnya seluruh item terkait penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai strategi koping. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku tersebut bukanlah cara koping yang umum atau dapat diterima secara sosial bagi perempuan penyintas KDRT di Indonesia. Selain itu, beberapa item yang menggambarkan sikap menyerah atau menarik diri secara ekstrem juga tidak mencerminkan pengalaman mayoritas partisipan. Sebaliknya, banyak penyintas menunjukkan upaya bertahan yang lebih aktif, meskipun dilakukan dalam keterbatasan dan tekanan struktural yang kuat.

Makna Temuan bagi Praktik Psikologi

Temuan ini menegaskan bahwa strategi koping sangat dipengaruhi oleh konteks budaya dan sosial. Alat ukur yang dikembangkan di budaya Barat tidak dapat serta-merta digunakan tanpa adaptasi mendalam. Dalam konteks Indonesia, khususnya pada perempuan penyintas KDRT, koping sering kali terkait dengan nilai religius, dukungan emosional, penerimaan, serta upaya bertahan secara diam-diam dalam situasi yang tidak mudah diubah.

Instrumen Brief COPE versi adaptasi ini diharapkan dapat menjadi alat yang lebih akurat bagi praktisi psikologi, konselor, dan peneliti untuk memahami dinamika koping penyintas KDRT. Dengan pemahaman yang lebih tepat, intervensi psikologis dapat dirancang secara lebih kontekstual, empatik, dan efektif.

Penutup

Adaptasi Brief COPE Scale ini menunjukkan bahwa proses adaptasi alat ukur psikologis harus dilakukan secara hati-hati, sistematis, dan berbasis budaya. Hasil penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan alat ukur yang valid dan reliabel, tetapi juga membuka ruang refleksi bahwa ketahanan psikologis perempuan penyintas KDRT di Indonesia memiliki karakteristik khas yang perlu dihargai dan dipahami secara mendalam.

Ke depan, penelitian lanjutan diharapkan dapat menguji penggunaan alat ukur ini pada kelompok penyintas dengan latar belakang usia, pendidikan, dan konteks sosial yang lebih beragam, sehingga pemahaman mengenai strategi koping perempuan Indonesia dapat semakin komprehensif.

Referensi

Rahayu, D., Hardiansyah, Wulandari, P. Y., Wahyuni, H., & Abidin, Z. (2025). Adaptation of the Brief Cope Scale for Indonesian Female Domestic Violence Survivors: A Culturally-Informed Process Using ITC Guidelines. International Journal of Body, Mind and Culture, 12(1), 201–212. https://doi.org/10.61838/ijbmc.v12i1.748