UNAIR NEWS – Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads Universitas Airlangga (AIIOC-UNAIR) secara resmi membuka Ritus Liyan edisi ketiga bertajuk “The Riparian ‘Daleman’ Chronicles” di Kampung Daleman, Kelurahan Pekauman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (22/1/2026).
Pembukaan Ritus Liyan edisi ketiga ini menandai keberlanjutan proyek kultural AIIOC-UNAIR dalam membaca, merekam, dan merespons ruang-ruang sosial yang menyimpan lapisan sejarah, memori, serta praktik hidup warga yang kerap terpinggirkan dalam narasi urbanisme modern. Pada edisi kali ini, Kampung Daleman dipilih sebagai locus eksplorasi karena posisinya yang unik sebagai kawasan permukiman tua yang tumbuh dari bentang perairan atau delta sidoarjo lama di tengah pesatnya urbanisasi kota kini.
Program ini merupakan program berkelanjutan AIIOC-UNAIR yang sebelumnya telah diselenggarakan di Plampitan, Surabaya, pada edisi pertama, serta di Kampung Lumpur, Sidoarjo, pada edisi kedua. Kedua edisi tersebut menempatkan kampung sebagai ruang pengetahuan hidup, di mana praktik seni, riset, dan keterlibatan warga menjadi medium untuk memahami dinamika sosial perkotaan.
Masuki Edisi Ketiga
Ritus Liyan edisi ketiga ini dieksekusi dalam format workshop, residensi, lokakarya intensif yang bermuara pada penciptaan karya audio-visual sebagai luaran utama. Kegiatan ini sendiri diikuti oleh 12 partisipan yang berasal dari beberapa kota di Indonesia dan latar belakang elemen masyarakat yang beragam, mulai dari warga kampung Daleman, seniman, aktivis sosial, hingga mahasiswa. Diselenggarakan pada 22–31 Januari 2026, para peserta akan diberdayakan melalui proses residensi di Kampung Daleman, dengan terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari warga untuk menangkap kisah, ingatan, dan kronik yang berkembang di kawasan tersebut. Hasil dari proses ini nantinya akan diolah menjadi material pembelajaran yang merefleksikan sejarah serta identitas kultural Kampung Daleman.
Lewat tajuk The Riparian ‘Daleman’ Chronicles, AIIOC-UNAIR menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog kritis antara akademisi, seniman, komunitas, dan warga kampung. Kampung Daleman tidak hanya diposisikan sebagai objek kajian, tetapi sebagai subjek yang menyuarakan sejarah, pengalaman, dan visi kemungkinan di masa depan dalam arus perubahan lanskap urban Sidoarjo.
Narasi Polisemik Kampung Daleman
Ritus Liyan edisi ketiga ini mengeksplorasi narasi-narasi polisemik Kampung Daleman—narasi yang lahir dari persinggungan antara sejarah air, perubahan ruang, dan pengalaman hidup warga di tengah arus urbanisasi. Program ini menjadi ruang pembacaan ulang terhadap relasi manusia, lingkungan, dan ingatan kolektif yang terendap di kawasan tersebut, yang tidak hanya menjadikan masyarakat kampung
Daleman sebagai objek yang tengah digali informasinya, namun sebagai subjek aktif yang ikut serta, bersama akademisi dan peserta, untuk menyusun dan menyebarkan pengetahuan terkait ruang dimana mereka tinggal. “Karena ini merupakan program yang sangat kolaboratif, maka dari itu mari kita sama-sama belajar untuk tidak memandang mereka (masyarakat kampung Daleman) sebagai objek, namun juga subyek, living entity, yang secara proaktif ikut serta dalam menarasikan identitas sosialnya,” ujar Ketua AIIOC, Lina Puryanti, Ph.D.
Dalam pelaksanaannya, program ini mendapat dukungan pendanaan dari Dana Abadi Perguruan Tinggi (DAPT) yang dikelola oleh LPDP. AIIOC-UNAIR menggandeng sejumlah mitra kolaborasi, yakni Humanities Across Borders-IIAS yang berbasis di Leiden, Southeast Asia Neighborhoods Network di Singapura, Yayasan Komune Kriya Pustaka, serta Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo.
Selain itu, AIIOC-UNAIR juga turut mengundang direktur rumah produksi Watchdoc Documentary yang berbasis di Jakarta, Ari Trismana, sebagai salah satu mentor yang khusus membahas mengenai proses produksi pengetahuan publik. Khususnya dalam bentuk film dokumenter. Kolaborasi lintas komunitas dan institusi ini harapannya mampu memperkaya pendekatan riset, praktik artistik, serta kerja-kerja kebudayaan yang berangkat dari konteks lokal Kampung Daleman. Program ini juga dirancang agar sejalan dengan SDGs 4 tentang Quality Education dan SDGs 17 tentang Partnership for the Goals.
Penulis: Tim AIIOC





