Universitas Airlangga Official Website

Aktivitas Antioksidan dan Sitotoksisitas Makroalga Cokelat

Aktivitas Antioksidan dan Sitotoksisitas Makroalga Cokelat
Ilsutrasi Makroalga Cokelat (Sumber: Indonesiainside)

Sumber nutrisi lengkap non-hewani dapat diperoleh dari sumberdaya hasil laut, yaitu makroalga. Produksi makroalga sebagai sumber pangan di seluruh dunia mengalami peningkatan dari 44% pada tahun 1996 menjadi 51,3% pada tahun 2018. Total ekspor makroalga nasional pada tahun 2020 sebesar 195.574 ton dengan nilai mencapai US$ 279,58 juta (Kementerian Kelautan dan Perikanan. Negara Inggris, Spanyol, Norwegia, Prancis, Filipina, Vietnam, Cina, Jepang hingga Indonesia telah menyumbang sekitar 90% dari total produksi makroalga di dunia.

Makroalga telah menjadi bagian integral dari ekosistem pesisir yang mendukung kehidupan akuatik hingga masyarakat pesisir. Negara di Asia memanfaatkan makroalga sebagai makanan tradisional hingga dikembangkan dalam bentuk kemasan. Penelitian terkini juga melaporkan manfaat makroalga sebagai bahan pangan fungsional guna meningkatkan kesehatan manusia. Makroalga cokelat (Phaeophyceae) memiliki 2.000 spesies dan menjadi kelompok terbesar kedua setelah markoalga merah.

Alga cokelat (Sargassum sp. dan Padina sp.) mengandung nutrien dan fitohormon. Komposisi asam amino berbagai alga cokelat didominasi oleh asam aspartat dan glutamat. Senyawa bioaktif pada alga cokelat memiliki sifat antioksidan, antifungal, antibakteri, antidiabetes, antikanker, antitumor, antivirus, antiinflamasi, dan antikoagulan. Senyawa aktif tersebut berpeluang dimanfaatkan untuk pengembangan produk pangan fungsional dan biomedis di masa depan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kombinasi jenis alga cokelat dan jenis pelarut terbaik berdasarkan parameter kapasitas antioksidan, toksisitas pada sel Vero. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi awal mengenai pengembangan alga cokelat sebagai bahan baku pangan fungsional dan obat– obatan hasil perikanan.

Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak etanol S. aquifolium dan P. australis (rasio 1:10) memiliki persentase rendemen sebesar 3,72% dengan kapasitas antioksidan sebesar 0,935±0,003 mg/L GAEAC dan nilai IC50 89,03 μg/mL (kategori kuat). Kombinasi ekstrak etanol S. aquifolium dan P. australis memiliki nilai IC50 pada konsentrasi 382,30 μg/mL (kategori lemah). Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak etanol S. aquifolium dan P. australis memiliki potensi baik untuk dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memberikan penegasan bioaktivitas kombinasi ekstrak alga cokelat terhadap sel kanker dan penyakit degeneratif terkait, terutama pada studi praklinis.

Penulis: Teguh Hari Sucipto, Anak Agung Ayu Putri Permatasari, Putu Angga Wiradana, dkk.

Link: https://journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/53930

Baca juga: Propolis Lebah untuk Prediksi Jalur Molekuler Antioksidan